Air Terjun GGC

Kisah Dibalik Air Terjun GGC Tembuku Kelod Bangli

Selain indah, air terjun Goa Giri Campuhan (GGC) di Tembuku Kelod, Bangli, juga memiliki kisah unik. Menurut satu diantara penggagas GGC, I Dewa Gede

anak agung seri kusniarti
GGC - Pengambilan foto spot air terjun GGC dari dalam goa 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUNTRAVELBALI.COM, BANGLI – Selain indah, air terjun Goa Giri Campuhan (GGC) di Tembuku Kelod, Bangli, juga memiliki kisah unik.

Menurut satu diantara penggagas GGC, I Dewa Gede Antarga, dahulu tempat ini adalah bendungan bernama DAM Giri. Namun sejak Mei 2019, telah dibuka sebagai destinasi wisata kepada umum.

“Sewaktu kami kecil, liburan kami ya ke sini,” katanya kepada Tribun Bali, beberapa waktu lalu. Kemudian ia bersama warga desa melihat potensi wisata air terjun, dari kucuran air yang terjun ke bebatuan dan tebing di sekitar GGC.

“Kemudian ada gagasan beberapa teman, untuk memanfaatkan air buangan itu. Untuk dijadikan destinasi wisata,” katanya. Ia kemudian bersama-sama menghadap bendesa adat setempat.

“Lalu bendesa adat mengumpulkan kami sebagai relawan dan melakukan terobosan. Membuat daya tarik agar GGC dilirik wisatawan,” jelasnya.

Air terjun ini, kata dia, muncul dari dalam goa, dan kelebihan air itu jatuh atau terjun ke barat menjadi air terjun.

Awalnya tak ada yang terlalu memperhatikan air terjun ini. “Pasti ada sumber mata air di atas sana, karena masuk ke atas itu pekerjaan riskan. Jadi ketika kami melihat air terjun indah ini, ya itu yang kami manfaatkan,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan Tribun Bali, Ada tiga sumber air terjun besar di GGC ini. Air terjun sebelum DAM memiliki debit air cukup besar dan jatuhnya ke sungai dengan arus sedang.

Kemudian air terjun kedua, diantara bibir DAM yang cukup tinggi, namun debit airnya tidak terlalu deras.

Setelah itu, air terjun ketiga yang menjadi icon GGC ini, berada setelah DAM dan jatuh diantara batu bertumpuk dihiasi lumut hijau nan indah.

Bahkan pengunjung bisa mengambil foto dari dalam goa di seberangnya, sehingga menambah estetikanya.

Tak sampai di sana, di sebelah selatan dari lokasi ini ada lagi sekitar 8 air terjun yang belum ditata oleh penduduk sekitar sebagai tujuan wisata.

“Kami beri nama batu merah, karena tebing di sana semua berwarna merah,” sebutnya. Kemudian ada batu mesibak atau terbelah, karena kekuatan air.

Untuk mengelola objek di selatan ini, akan dilakukan setelah objek wisata di utara berjalan dengan baik.

“GGC ini saja belum optimal jalannya, masih banyak kendala seperti SDM, dana, dan sebagainya,” katanya.

GGC kian indah, karena dialiri sungai yang terbelah lengkap dengan pancuran atau biasa disebut campuhan di Bali.

“Yang campuhan memang genah melukat konon dulu adalah pesiraman ida peranda, dan itu jarang dipakai. Jadi kami mencoba memanfaatkan air dengan pipa, dan kami terjunkan dan kami berikan pancoran Pancaka Tirta karena ada lima pancoran di sana,” jelasnya.

Jika GGC telah berjalan dan mendatangkan tamu, serta sarana-prasarana lengkap maka yang bagian selatan akan ditata untuk melengkapi destinasi wisata ini.

Per hari saat ini, sejak Agustus 2019 tamu semakin hari kian bertambah. Ia menyebutkan setidaknya domestik mencapai 15 orang per hari, sedangkan wisatawan mancanegara berkisar 20-25 per hari.

GGC dibuka sejak pukul 08.00 Wita sampai 17.00 Wita, bahkan hingga petang jika masih ada tamu yang berenang.

Ke depan, kata dia, akan selalu berpatokan pada paruman adat, dan tetap mencari masukan dari turis, supir travel, dan guide, untuk kemajuan GGC. Bahkan jika ada pedagang pun, akan ditata ke depannya sehingga tetap membuat GGC asri dan berbasis alam yang alami. (ask)

Ikuti kami di
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Sumber: Tribun Bali
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved