Admission Fee

Rencana Pungutan ke Wisman, PHRI Badung Tak Masalah Retribusi Diganti Donasi

Adanya usulan Anggota Komite II DPD RI Perwakilan Provinsi Bali, Mangku Pastika, mengubah istilah kontribusi menjadi donasi ditanggapi santai insan pa

Rencana Pungutan ke Wisman, PHRI Badung Tak Masalah Retribusi Diganti Donasi
anak agung seri kusniarti
Upacara - Banten upacara Rsi Gana di sebuah rumah di Batubulan, Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUNTRAVELBALI.COM, DENPASAR – Adanya usulan Anggota Komite II DPD RI Perwakilan Provinsi Bali, Mangku Pastika, mengubah istilah kontribusi menjadi donasi ditanggapi santai insan pariwisata. Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menjelaskan penggantian istilah tak masalah jika tujuannya sama. “Saya pikir itu hanya memperhalus saja, intinya perjuangan ini dilakukan bersama-sama,” tegasnya kepada Tribun Bali, Jumat (13/12).

Sehingga apapun yang diminta perwakilan pusat, akan menjadi pertimbangan insan pariwisata di Bali untuk memperjuangkan ini. “Mungkin karena retribusi jatuhnya lebih ke pajak, sehingga diganti donasi,” katanya. Ia meminta perpanjangan tangan Bali, agar terus mengusahakan ini deal di pusat. Sebab donasi ini, penting bagi ke depan dalam pemeliharaan alam, budaya, dan destinasi yang ada di Pulau Dewata.

“Kalau hanya bersumber dari pajak kendaraan bermotor kan tidak pas ya, apalagi Bali menyumbang devisa ke pusat sekitar Rp 130 triliun sampai Rp 150 triliun,” sebutnya. Namun yang balik tidaklah besar, dengan alasan tidak ada sumber daya alam. Rai, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ihwal ini telah dilakukan kajian. Tamu-tamu asing di hotel, kata dia, diberikan quisioner tentang berapa besaran donasi yang wajar diterapkan ke wisman.

“Kami isi dari 5 dolar, 10 dolar, hingga 15 dolar. Ternyata banyak yang menjawab 13 dolar. Ini artinya turis asing tidak masalah dengan donasi ini. Sebab mereka sebagai turis ikut membantu daerah wisata yang dikunjunginya,” jelas Ketua BPPD Badung ini. Dari hasil tersebut, diambil angka tengah yakni 10 dolar per turis. “Bayangkan 10 dolar ini hanya harga setara dengan harga burger di luar negeri,” imbuhnya. Namun manfaat yang didapat bisa sangat besar bagi Bali ke depan.

Dana ini, bisa digunakan untuk memperbaiki destinasi, memberikan sumbangsih bagi sanggar yang melestarikan budaya Bali, membuat information center dalam beberapa bahasa, menyediakan pariwisata yang semakin berkelas, asuransi bagi turis, dan perbaikan aksesibilitas serta banyak hal lainnya. “Misalkan turis yang membayar ini, kemudian digigit monyet di destinasi wisata, bisa diberikan pelayanan cepat tanggap, sehingga kualitas pelayanan kita optimal,” jelasnya.

Dana ini, kemudian dihimpun dan dikelola oleh sebuah badan pengelola kontribusi wisatawan. Untuk mempertanggungjawabkan apa dan bagaimana penggunaan dana, yang dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel. “Selain pelestarian adat, budaya, dan alam, juga benefit dikembalikan ke wisman tadi,” imbuhnya. Negara lain sudah menerapkan ini sejak lama, bahkan variasinya ada mencapai 100 dolar-250 dolar per orang per malam.

Sementara donasi ke Bali hanya 10 dolar per visit bagi wisman, kemudian anak-anak hanya 5 dolar per visit, dan bayi free. Baginya, sangat wajar apalagi Bali adalah destinasi terkenal di dunia dan kerap menduduki ranking pertama untuk destinasi wisata. “Ini penting agar alam dan budaya Bali juga bisa merasakan kue pariwisata, jangan sampai tidak sustainable ke depan,” ujarnya. Ia mengatakan upacara yadnya di Bali dari 3 juta lebih penduduk menghabiskan sekitar Rp 10 triliun per tahun.

Dan adat-istiadat, serta budaya ini yang menjadi daya tarik kedatangan turis asing. Tetapi malah tidak mendapatkan benefit apapun, termasuk penari, penabuh dan sebagainya. Lanjutnya, ada sekitar 99 negara di dunia yang telah menerapkan sejenis donasi ini. Hanya saja, lanjut dia, PR saat ini adalah bagaimana cara memungutnya. “Kami sih rencana mengusulkan di ticketing, namun sepertinya dari maskapai masih belum setuju. Opsi lainnya lewat airport, kalau tidak deal juga bisa lewat hotel. Tapi kalau lewat hotel potensi lostnya atau hilang itu sampai 30 persen, karena kan ada turis yang menginap di villa atau kos-kosan yang tidak terdeteksi,” katanya. Inilah yang akan dibicarakan ke depan. (ask)

Ikuti kami di
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Sumber: Tribun Bali
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved