Listrik Nataru 2019

Jadi Tujuan Wisata, PLN Proyeksi Nataru 2019 Konsumsi Listrik Tak Lewati Beban Puncak

Libur Natal 2019, dan jelang tahun baru 2020 ini, Bali tetap menjadi destinasi wisata pilihan turis lokal dan asing. Untuk itu, baik bandara, pelabu

Jadi Tujuan Wisata, PLN Proyeksi Nataru 2019 Konsumsi Listrik Tak Lewati Beban Puncak
Anak Agung Seri Kusniarti
Pose - General Manager PLN Unit Induk Distribusi Bali, Nyoman Suwarjoni Astawa. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Libur Natal 2019, dan jelang tahun baru 2020 ini, Bali tetap menjadi destinasi wisata pilihan turis lokal dan asing. 

Untuk itu, baik bandara, pelabuhan, industri pariwisata, hingga PLN tengah mempersiapkan semua pasokan dan kebutuhan yang diperlukan. 

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Bali, Nyoman Suwarjoni Astawa, memprediksi konsumsi listrik Natal dan Tahun Baru tidak akan melewati beban puncak tertinggi di tahun 2019.

Beban puncak tertinggi bulan 6 Desember 2019 mencapai 966 Mega Watt (MW). Ini adalah rekor baru selama ini, dan merupakan beban puncak tertinggi akibat cuaca ekstrim selama ini. Panas yang melanda Bali hingga 35 derajat Celcius membuat penggunaan AC meningkat.

"Kalau melihat Nataru 2019 ini, kayaknya sama seperti data kami sebelumnya. Relatif beban masih dibawah beban puncak," katanya dalam media gathering di Puri Santrian, Denpasar, Senin (23/12/2019). Prediksi ini jika saja musim hujan, tidak anomali atau kembali panas.

Maka beban konsumsi saat Nataru 2019, masih sama hanya sekitar 90 persen dari beban puncak yang pernah diraih. "Natal dan tahun baru ya sekitar 920 MW tidak lebih dari itu," sebutnya. Sebab faktor lain yang tidak mempengaruhi beban puncak, karena kantor relatif sudah tutup.

Kemudian warga relatif juga datang ke lapangan, atau ruang terbuka melihat kembang api dan merayakan akhir tahun. Serta yang merayakan Natal datang ke gereja. Sehingga  pemakaian rumah tangga dan industri relatif turun. "Beban kami justru akan turun. Dibanding beban puncak. Bahkan seluruh sistem Jawa-Bali juga bebannya turun sekitar 20-25 persen," katanya. 

Walaupun kondisi cuaca hujan, dan badai PLN juga menyediakan petugas yang berpatroli 24 jam. "Kami menyiapkan petugas ke lokasi yang jaringannya terganggu, terkena pohon tumbang atau sebagainya," katanya. Untuk itu, PLN   mengharapkan bantuan informasi masyarakat setempat agar bisa segera diantisipasi. 

Selain membahas persiapan pasokan Nataru 2019, PLN juga membahas ihwal masih adanya masyarakat Bali yang belum memiliki listrik secara pribadi. “Total di Bali itu, masih ada 9.000 warga yang sudah menikmati listrik. Tetapi masih ikut dengan tetangga, saudara, atau keluarganya,” jelas Suwarjoni, sapaan akrabnya. Istilahnya masih dalam satu pekarangan, sehingga masih menggunakan listrik bersama. 

“Nah 1.300 diantaranya adalah masyarakat yang tidak mampu, yang masuk di basis data terpadu TNP2K,” sebutnya. Jumlah ini, yang diharapkan PLN agar dibantu oleh pemda maupun donatur lainnya. Agar bisa menikmati listrik sendiri. “Kalau mereka selama ini membayar bulanan bersama, pasti akan jauh lebih murah kalau menjadi pelanggan sendiri,” tegasnya. Apalagi dengan listrik bersama, tentu ada pembatasan sehingga tidak leluasa. 

“Padahal mungkin kalau punya listrik sendiri, pelanggan bisa menggunakan membeli alat untuk jualan atau bisnis,” imbuhnya. Sehingga lebih produktif dan membantu meningkatkan kesejahteraannya. “Namun mereka tidak jadi pelanggan PLN, biasanya karena tidak ada biaya,” katanya. Untuk itu, ia berharap agar donatur bisa memberikan CSRnya untuk hal ini. Wilayah yang paling banyak, kata dia, adalah Karangasem, Bangli, kemudian Buleleng dan Jembrana. (ask)

  

Ikuti kami di
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Sumber: Tribun Bali
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved