Kampung Langit

Kampung Langit, Wisata Edukasi Budaya Bagi Anak di The Keranjang Bali

he Keranjang Bali juga memiliki kawasan edukasi budaya, khususnya bagi anak-anak di lantai 3 bernama Kampung Langit.

anak agung seri kusniarti
Pose - Suasana saat penonton berfoto bersama penari usai pertunjukkan di Kampung Langit 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A  A Seri Kusniarti

TRIBUNTRAVELBALI.COM, BADUNG – The Keranjang Bali juga memiliki kawasan edukasi budaya, khususnya bagi anak-anak di lantai 3 bernama Kampung Langit.

Ilham Firdaus, Operational Director The Keranjang Bali, menjelaskan bahwa Kampung Langit ini juga menjadi keunikan The Keranjang Bali.

“Jadi anak-anak bisa bermain, dan merasakan aktivitas masyarakat tradisional Bali di Kampung Langit ini. Atau bisa disebut pengalaman menjadi masyarakat Bali dalam waktu singkat,” jelasnya kepada Tribun Bali, Selasa, (24/12/2019) di Kuta, Badung, Bali.

Ada banyak wahana dan permainan di Kampung Langit, bahkan ada teater pertunjukan juga, sehingga anak-anak bisa mendapatkan edukasi sembari bermain.

Saat memasuki kawasan Kampung Langit, pengunjung akan melihat praktek membuat gebogan, ogoh-ogoh, yang bisa dirangkai secara kreatif.

Kemudian, ada pula area untuk melakukan aktivitas pijat refleksi secara mandiri.

“Nah di area pijat ini, pengunjung diajarkan untuk mengenali titik refleksi di dalam tubuhnya. Seperti di telapak tangan, telapak kaki yang bisa distimulasi untuk menyembuhkan diri sendiri,” jelasnya.

Lanjut ke area berikutnya, pengunjung diajak melihat sawah, dan diajarkan tata cara menumbuk padi. “Ada jenis padi dari Gianyar, Tabanan, dan Singaraja. Nah nanti anak-anak kalau mau menumbuk bisa membawa pulang hasil beras yang sudah selesai ditumbuk,” katanya.

Ada wadah karung kecil untuk beras hasil tumbukan tersebut, dan itu merupakan bagian dari suvenir.

Ada pula labirin bernama Lorong Sloka berisi kata-kata baik atau positif dari Bahasa Bali, dilengkapi dengan artinya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Terkadang lokasi ini, juga menjadi inspirasi orang tua memberikan nama pada anaknya.

Tak kalah menarik, stand untuk aktivitas memetik biji kopi hingga diseduh, dan aktivitas megibung.

Paon Loloh, juga hadir untuk memberikan edukasi mengenai cara membuat jamu dan loloh serta pengetahuan akan dua hal ini.

“Jadi aktivitas di sini bukan demo, jadi tamu yang langsung membuat jamu di sini,” tegasnya.

Ia mengatakan, sebetulnya begitu masuk pengunjung akan diajak masuk ke Ruang Pranala untuk menonton video lima, yang menjelaskan peran serta tangan bagi masyarakat Bali.

Kemudian ada area dengan permainan lama, seperti kuda kayu, layang-layang, dan perahu zaman dahulu yang mulai jarang ditemukan di era modernisasi ini.

“Nah lanjut ada Goa Babad Jatma, dengan aktivitas mendalang dilengkapi dengan wayang asli. Dengan pesan yang ingin kami sampaikan adalah pengetahuan tentang wayang Ramayana. Lalu diajarkan cara megang wayang, jadi ada pengetahuan budaya,” katanya.

Bahkan ada aktivitas meramal di sana, sesuai dengan kelahiran pengunjung.

Tata ruang di Kampung Langit ini, dibuat sangat menarik sehingga tidak membosankan.

Pengenalan alat musik Bali, hingga cara dandan ala Bali lengkap dengan pakaian adat juga disediakan.

“Bahkan termasuk aktivitas cara membatik, membuat gelang tridatu, dan membuat gerabah,” imbuhnya. (ask)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved