Kunyit

Kemu-Lan Tawarkan Kunyit Detoksifikasi Hingga Makanan Khas Bali 

Warung Kemu-Lan di Gatsu Tengah, menawarkan konsep baru khas Bali. Beberapa makanan dan minuman, yang disajikan merupakan menu dengan bahan lokal.

Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Anak Agung Seri Kusniarti
Ketut Suryadi Putra, bersama karyawannya saat menunjukkan beberapa produk dari Kemu-Lan. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUNTRAVELBALI.COM, DENPASAR -  Warung Kemu-Lan di Gatsu Tengah, menawarkan konsep baru khas Bali. Beberapa makanan dan minuman, yang disajikan merupakan menu dengan bahan lokal. 

Dengan harga yang cukup murah untuk wilayah Denpasar. 

Owner Kemu-Lan, Ketut Suryadi Putra, menjelaskan restoran ini telah ada sejak 2 tahun lalu.

“Namun awal itu, konsepnya masih campuran antara makanan western dan lokal.

Sekarang saya ubah dan mencari keunikannya sehingga beda dengan yang lainnya,” jelasnya dalam temu media, (21/1). 

Varian makanan khas Bali yang dijajakan, seperti nasi campur sambel emba, tipat sate, serta makanan lainnya.

Kemudian untuk minuman, ada kelapa bakar, minuman kunyit untuk detoksifikasi, hingga wine mulberry. “Minuman kunyit dan tipat campur serta nasi campur paling laris,” katanya. 

Harga makanan mulai Rp 20 ribuan, sementara harga minuman mulai Rp 10 ribuan. Sementara untuk wine dibanderol Rp 30 ribu, dan enzim organik dijual Rp 100 ribuan.

“Untuk pembuatan minuman kunyit, hanya dibutuhkan waktu sejam. Karena tidak isi pengawet, ketahanannya hanya 3 hari,” katanya. Kunyit ini, kata dia, untuk detoksifikasi perut serta menjaga kesehatan. 

Minuman kunyit juga mengangkat tradisi lokal, seperti jamu yang terkenal seantero Indonesia.

“Kami tambahkan madu dan jeruk peras untuk menambah citarasa,” imbuhnya. Minuman jahe juga ada, dan temulawak. Sementara kelapa bakar, dicampur dengan ramuan cengkeh dan lainnya, sehingga membantu kebugaran tubuh. Harganya dibanderol Rp 25 ribuan. 

Sementara untuk wine, jelas dia, masih dalam tahap proses untuk pelabelan dan mencari izin. Bahan dasar wine ini adalah buah muberry, yang didapatkannya dari Batu Malang.

“Kebetulan saat ini buah muberry memang ada banyak di Malang, jadi saya join dengan teman di sana,” katanya. Lanjutnya, buah ini difermentasi selama 3 bulan untuk mendapatkan rasa yang pas. “Tetapi lebih bagus itu kalau difermentasi selama setahun,” katanya. 

Ia pun akan segera memasarkannya secara luas, setelah melengkapi izin dan sebagainya. Termasuk memasukkan wine ini ke pasar ritel. “Sekarang memang masih dipesan dari Malang, karena buah ini tumbuhnya di musim tertentu,” jelas pria yang juga pemilik Agro AW Sanding ini.

Per bulan di Malang, kata dia, rata-rata produksi 100 liter. Sementara untuk beberapa bahan makanan ia tanam sendiri, di Agro AW Sanding, Tampaksiring, Gianyar.

Ia menanam apel dan beberapa tumbuhan lainnya, dan ternyata berhasil. Ia pun berharap ke depannya makanan dan masakan Bali kian dikenal dan tetap lestari serta disukai masyarakat. (ask)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved