Pandemi Corona

Pandemi COVID-19, BPS Bali Catat Pengangguran Bertambah 1.065 Orang

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat, jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 sebanyak 2.591.033 orang. Bertambah 51.455 orang, diband

Pandemi COVID-19, BPS Bali Catat Pengangguran Bertambah 1.065 Orang
anak agung seri kusniarti
Kepala BPS Bali, Adi Nugroho 

Laporan Wartawan Tribun Bali,  A  A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat,  jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 sebanyak 2.591.033 orang. Bertambah 51.455 orang, dibanding Februari 2019.

Sejalan dengan bertambahnya jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga tercatat naik sebesar 0,40 persen. “Pada Februari 2020, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 1,21 persen, meningkat 0,02 persen dibandingkan TPT Februari 2019 sebesar 1,19 persen,” kata Kepala BPS Bali, Adi Nugroho, Selasa (5/5/2020).

Hal ini ditandai bertambahnya 1.065 orang penganggur. “Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Diploma I/II/III masih tertinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 3,77 persen,” sebutnya. Pekerja formal tercatat sebanyak 1.298.450 orang (50,73 persen), sedangkan yang bekerja pada kegiatan informal tercatat sebanyak 1.261.156 orang (49,27 persen).

“Selama setahun terakhir (Februari 2019–Februari 2020), pekerja informal turun sebesar (-2,23) persen,” sebutnya. Dari hasil Sakernas Februari 2020 di Bali, terdapat perbedaan TPAK antara laki-laki dan perempuan. TPAK laki-laki tercatat sebesar 83,37 persen, dan TPAK perempuan sebesar 70,75 persen. “Dibandingkan dengan kondisi setahun yang lalu, TPAK laki-laki dan perempuan masing- masing tercatat meningkat sebesar 0,65 persen dan 0,13 persen,” sebutnya.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), kata dia, adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja. TPT di Bali pada Februari 2019 tercatat sebesar 1,19 persen naik menjadi 1,21 persen pada Februari 2020. Berdasarkan klasifikasi wilayah, TPT di perkotaan Bali tercatat lebih tinggi dibanding TPT di wilayah perdesaan.

“Pada Februari 2020, TPT di wilayah perkotaan Bali tercatat sebesar 1,30 persen, sedangkan TPT di wilayah perdesaan tercatat sebesar 1,00 persen,” sebutnya. Dibandingkan setahun lalu, TPT di perkotaan tercatat mengalami kenaikan 0,03 persen, sedangkan TPT di perdesaan tercatat menurun (-0,03) persen.

Dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan, hasil Sakernas Bali Februari 2020 mendapati bahwa TPT untuk Diploma I/II/III masih tercatat yang tertinggi, di antara TPT pada tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 3,77 persen. Hal ini berarti bahwa di antara angkatan kerja berpendidikan Diploma I/II/III, tercatat sebesar 3,77 persen sebagai pengangguran.

Selebihnya, 96,23 persen angkatan kerja dari tingkat pendidikan Diploma I/II/III ini terserap pada pasar kerja. “TPT tertinggi berikutnya berasal dari tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) (2,42 persen),” sebutnya. Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja tidak terserap terutama dari tingkat pendidikan Diploma I/II/III dan SMK.

“Diduga, mereka yang berpendidikan lebih rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja, sehingga dapat dilihat bahwa TPT dari yang berpendidikan SMP ke bawah adalah yang paling kecil di antara TPT semua tingkat pendidikan yaitu sebesar 0,37 persen,” katanya. Apabila dibandingkan kondisi setahun yang lalu, penurunan TPT terjadi pada mereka yang berasal dari tingkat pendidikan SMP ke bawah dan SMA.

Berdasarkan tren lapangan pekerjaan selama Februari 2019–Februari 2020, lapangan usaha yang mengalami peningkatan serapan tenaga kerja terutama pada Kategori G (perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil serta sepeta motor) sebesar 1,01 persen, Kategori R, S, T, U (jasa lainnya) 0,63 persen.

Kemudian katagori H (transportasi dan pergudangan) serta Kategori Q (jasa kesehatan dan kegiatan sosial) masing-masing sebesar 0,57 persen. “Sementara lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan serapan utamanya, pada Kategori A (pertanian, kehutanan dan perikanan) sebesar (-2,05) persen. Kategori I (penyediaan akomodasi, dan makan minum) sebesar (-0,88) persen, serta Kategori K (jasa keuangan dan asuransi) sebesar (-0,72)persen.

“Dari seluruh penduduk Bali yang bekerja (pekerja) pada Februari 2020, status pekerjaan utama yang terbanyak adalah mereka sebagai buruh/karyawan/pegawai (46,76 persen),” jelasnya. Diikuti status berusaha dibantu oleh buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar (16,29 persen). Berusaha sendiri (15,79 persen), dan pekerja keluarga (11,77 persen).

Sementara pekerja dengan status pekerja bebas pertanian, memiliki persentase yang paling kecil di Bali, yaitu sebesar 1,86 persen. “Dalam setahun terakhir (Februari 2019–Februari 2020), peningkatan persentase pekerja di Bali tertinggi tercatat pada status buruh/karyawan/pegawai (1,91 persen),” jelasnya. Penurunan tercatat pada mereka yang berstatus berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar sebesar (-1,38) persen, pekerja keluarga sebesar (-1,32) persen, dan pekerja bebas non pertanian sebesar (-0,20) persen. (ask)

Ikuti kami di
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved