New Normal

Ramia : New Normal Lahirkan Quality Tourism

General Manager (GM) Hotel Sovereign Bali, I Made Ramia Adnyana, juga sepakat dengan ide new normal ini. Baginya, new normal pasca pandemi Covid-19 me

Ramia : New Normal Lahirkan Quality Tourism
Istimewa
Ramia Adnyana

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – General Manager (GM) Hotel Sovereign Bali, I Made Ramia Adnyana, juga sepakat dengan ide new normal ini. Baginya, new normal pasca pandemi Covid-19 menyerang Indonesia dan Bali, akan mendatangkan kualitas tourism.

“Hotel telah menyiapkan SOP new normal ini, contoh implementasinya ketika memasuki main entrance hotel  akan dicheck dengan thermo gun, cuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer dan menggunakan masker ketika check in,” jelasnya di Badung, Senin (25/5/2020).  

Ia berharap proses check-in ke depan, lebih menggunakan online system sehingga meminimalisir terjadinya kontak fisik antara pegawai dan tamu. “Proses check-in bisa diminimalisir sesingkat mungkin, dengan melakukan in room check, jadi tidak ada antrian di lobby,” jelasnya.

Semua kamar, sudah dipersiapkan dengan proses ozonisasi yang telah terjaga hygiene and sanitazationya. Tingkat kebersihan publik area juga dipastikan akan jauh lebih ketat, dengan menggunakan desinsfektan dengan minimal 3 kali sehari atau lebih sering  sesuai keramaian tamu yang dilayani.

“Publik area termasuk lobby, toilet umum, lift, SPA, pool, gym, dan restaurant,” imbuhnya. Sementara hotel tidak akan menawarkan buffet, untuk makan pagi dalam rangka mengurangi kerumunan di restautant.

Tempat duduk diatur sesuai arahan social distancing atau physical distancing. Semua telah diatur dalam SOP masing-masing sesuai dengan kondisi di tengah pandemi Covid-19 ini. Ramia sepaham dengan pendapat Ketua PHRI Badung, yang menyatakan kekuatan pengusaha industri pariwisata di Bali hanya bisa bertahan 3 bulan.

“Kemampuan pengusaha hotel bisa bertahan sampai akhir Mei 2020. Agar tidak semakin drop, memang diperlukan new normal. Untuk memulai kami berharap adanya bailout dalam bentuk soft loan ketika kami buka nantinya,” tegasnya.

Dana tersebut akan dijadikan sebagai capital fund, untuk beroperasi sampai kondisi normal. Sebab beban biaya operasional sangatlah berat. “Seperti biaya listrik berkisar 10 persen, kemudian biaya payroll atau overhead sekitar 25 persen dan biaya room cost 10  persen. Total biaya ini saja sudah berkisar 45 persen, dan ini belum termasuk biaya F&B cost, sales & marketing dan other expenses,” sebutnya.

Sebab promosi di industri hospitality tidak sama dengan promosi di industri lain. “Kalau industri perhotelan itu, sekarang kerja short promotion, tahun depan baru bisa dinikmati hasilnya. Nah dengan adanya new normal ini tentu akan lebih sulit lagi. Volume menjadi sangat kecil. Dan tentunya akan lebih ribet karena prosedur pengecekan di bandara juga kian ketat, namun ini harus tetap dilakukan dan dijalani,” tegasnya.

New normal akan menjadi the next normal, dan ujungnya berhulu pada quality tourism. Bali merupakan premium produk jadi dengan new normal, diharapkan akan dijual dengan premium price juga. “Sehingga mess tourism yang berfokus pada quantities (kuantitas) akan berubah lambat laun, dan tidak lagi bisa dipaksakan di era new normal,” katanya. (ask)

Ikuti kami di
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Sumber: Tribun Bali
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved