Potensi WFB

Cok Ace : Potensi Bekerja Dari Bali Jadi Peluang Baru

Insan pariwisata kembali mengadakan webinar online. Kali ini membahas ihwal potensi bekerja dari Bali. Bali’s Next Normal Webinar ke-5 ini, mengambil

Instagram/ @inlawscoffee
In Laws Coffee, Kuta, Bali 

Hal ini sangat sejalan dengan visi besar pemerintah Bali, melalui RAPERDA RPIP ( Rencana Pembangunan Industri bali 2020-2040 ) dalam tiga pilar utamanya yaitu pilar Pariwisata, pilar Agrikultur berbasis teknologi dan Industri 4.0 yang juga berbasis teknologi.  Selain itu ia juga berbagi studi kasus negara Thailand yang meluncurkan SMART VISA, ditujukan kepada perusahaan/individual berbasis teknologi sejak 1 Februari 2018.

Dan memberikan masukan agar hal tersebut juga sebaiknya dipertimbangkan.“Para pekerja daring  atau yang biasa disebut digital nomad ini, memiliki kekuatan spending yang tidak kecil yaitu 1300 USD per orang. “Dan ini akan dapat menjadi kontribusi yang baik untuk ekonomi Bali,” imbuhnya. Akan jauh lebih baik, jika setiap kabupaten memiliki area khusus ekosistem digital nomad,  jangan tinggalkan banjar, karena desa atau banjar harus mendapatkan efek dengan kehadiran digital nomad ini.  Dan level berikutnya tidak hanya digital nomad namun juga digital worker,” tegasnya.

Trisno Nugroho, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, menyatakan arus globalisasi telah berubah menjadi deglobalisasi dan merupakan isu baru di dunia. “Masih merosotnya ekonomi di berbagai belahan dunia, Bali harus bisa sustainable khususnya pertahanan pangan dan juga lainnya,” katanya. Selain itu Bali sebagai destinasi, harus shifting untuk digitalisasi dan inovasi. Ia menekankan inovasi ini penting sekali, agar tidak jauh tertingal.

Dengan berubahnya paradigma bekerja, digitalisasi bukan lagi keniscayaan dan menegaskan kembali dengan memberikan tagline “Bali 4.0 Bukan Keniscayaan”. Indonesian Ambassador to PRC & Mongolia, Djauhari Oratmangun, mengutip artikel dari South China Morning Post “5 Digital Nomad Retreat to Help You Work Around the World Hassle Free” yang terbit pada Agustus 2019 menempatkan Ubud, Bali di posisi kedua. Seperti disampaikan Paulus sebelumnya, Bali menjadi destinasi terbaik bagi para digital nomads dengan estimasi 200.000 orang pekerja digital nomads, yang tinggal dan bekerja di Bali pada Juni 2019.

Data ini sudah dapat dijadikan sebagai modal dasar Work from Bali. Namun Untuk meningkatkan target wisatawan tersebut, di Bali maka harus diupayakan koneksi kecepatan internet yang mumpuni serta working space yang nyaman. Christina, Founder & CEO  Panorama Growth, memaparkan presentasinya dengan tajuk “Reimagine Bali” dimana Bali yang sebelumnya dikenal murni untuk destinasi wisata, memiliki potensial untuk  bertransformasi menjadi destinasi bisnis unggulan.

“Dan hal ini sangat mungkin dilakukan dengan menarik pekerja digital, untuk melakukan tugas virtualnya di Bali,” jelasnya. Menggandeng partner bisinis kelas dunia, dan mengakselerasikan master plan  ekonomi digital Bali serta Indonesia. “Sebagaimana kita ketahui Covid-19 telah membawa perubahan baru bekerja secara daring, tanpa harus berada di kantor fisik di berbagai belahan dunia, dan dari riset yang dilakukan IDC dalam dua tahun ke depan setidaknya akan ada peningkatan sebenyak 50 persen pekerja digital,” imbuhnya.

Namun hal ini juga harus disikapi dengan CHS, untuk membuat segala kegiatan aman misalnya dengan transparansi  contact tracing dan visitor tracking. Christina meyakini bahwa hal tersebut akan membuat industri pariwisata pulih lebih cepat. “Para pekerja era baru ini mengutamakan mental wellness, melalui keseimbangan pekerjaan dan kehidupan,” imbuhnya. Dan hal ini merupakan segmen baru industri pariwisata. 

Estonia menjadi satu negara dengan contoh terbaik dalam membuka segmen ini. Kelvin Tan, Co Founder  Eyemail Technology, menambahkan perlunya dibentuk ekosistem digital dan kepemimpinan untuk meraih target ini lebih cepat.

H.E. Pratito Soeharyo, Duta Besar Indonesia untuk Laos menyampaikan Kekuatan kecepatan Internet di Asia Tenggara dimana nomor 1 adalah Singapura, kedua Vietnam dan ketiga Laos. Dan secara global Indonesia mendapat peringkat 81, sedangkan Vietnam di peringkat 52. Ia menegaskan pentingnya meningkatkan infrastruktur pendukung ini agar tidak counter produktif. (ask)

Ikuti kami di
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Sumber: Tribun Bali
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved