Lockdown Bali

Cok Ace : Lockdown Perlu Dicermati Lagi

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, berharap ekonomi Bali triwulan III-2020 dan triwulan IV-2020 sedikit tidaknya membaik dibandi

Istimewa
Cok Ace 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, berharap ekonomi Bali triwulan III-2020 dan triwulan IV-2020 sedikit tidaknya membaik dibandingkan triwulan I-2020 dan triwulan II-2020.

“Tetapi kenyataan di lapangan, pandemi Covid-19 ini angka positifnya terus meningkat. Kami pada (10/9/2020) ada rapat jam dua dengan rumah sakit yang ada di Bali. Mudah-mudahan bisa dikendalikan korban pandemi ini, sebagaimana sebelumnya. Sehingga tidak harus menghentikan kegiatan-kegiatan yang ada dan sudah mulai menggeliat,” tegasnya di Denpasar, beberapa waktu lalu.

Ia pun mendorong semua pihak, baik pemda, swasta, dan lainnya untuk konsumsi hasil pertanian dan perikanan dari Bali. Sehingga deflasi tidak terus berlanjut, karena tidak terlalu baik bagi ekonomi ke depannya.

“Salah satu cara, adalah memperpendek jarak antara produsen ke konsumen. Dengan demikian, walaupun kita sadari bersama peredaran uang makin menipis tapi dengan memperpendek jalurnya, kita harapkan kemampuan daya beli masyarakat juga masih bisa dipenuhi,” jelasnya.

Perpendek jalur ini, adalah dari produsen langsung ke konsumen seperti dalam kegiatan pasar gotong royong. Mengenai wacana lockdown, pria yang akrab disapa Cok Ace ini ingin melihat secara rinci dan cermat apa yang menyebabkan bulan Agustus dan September timbul lonjakan kasus Covid-19 di Bali.

“Kalau kami dengar laporan dari teman-teman di kabupaten, lebih banyak kasus sekarang diakibatkan transmisi rumah tangga dan perkumpulan dalam acara upacara-upacara. Nah kalau itu persoalannya, apakah lockdown menjadi jawaban untuk kita semua di Bali  tentu ini harus dilihat ke depannya,” ujar pria yang juga Ketua PHRI Bali ini.

Baginya, kasus mencuat setelah kembali dibuka Bali untuk turis lokal dan domestik. Kemudian banyak kaula muda, yang sekian bulan terkungkung di rumah gembira jalan-jalan melepas penat. Beberapa mungkin akhirnya terkena dan menimbulkan penderita tanpa gejala, karena generasi muda cenderung lebih sehat dibandingkan generasi lansia.

Namun saat balik ke rumah menjadi carrier bagi orang tua atau kakek-neneknya. “Nah inilah yang menjadi sumber, akhirnya orang tua kena, yang daya tahan tubuhnya (imunitas) berkurang, sehingga akhirnya mudah tertular. Sementara waktu penyembuhan relatif lama, dan resiko kematiannya lebih tinggi, karena banyak juga yang sudah punya penyakit bawaan,” tegas Cok Ace.

Ini yang perlu diperbaiki ke depan. “Kami sedang berbicara dengan majelis agung, bagaimana mengeliminasi pertemuan-pertemuan di desa ini. Kalau dulu kan adanya maklumat kapolri, kapolda, dan diikuti kapolres, sampai kapolsek jadi semua ketat. Kini setelah dicabut itu, agak longgar. kKe depan apakah desa adat mulai dikembalikan sepeti dulu lagi, walaupun tidak seketat dahulu lagi, tapi minimal kita sadar bahwa Covid-19 masih ada,”tegasnya.

Apalagi memang kondisi ruang isolasi pasien Covid-19 juga mulai menipis di Bali.“Ini makanya kami rapat dengan rumah sakit swasta, untuk bisa juga sebagai rumah sakit rujukan. Kenapa kelihatan tinggi, karena memang ruangan dengan jumlah pasien relatif seimbang. Andaikata kita siapkan ruangan lebih banyak, tentu akan lebih besar ketersediaannya dan persentase penggunaan kamar menurun. Sehingga ke depan dimungkinkan rumah sakit swasta akan menerima pasien Covid-19,” imbuhnya.  (ask)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved