We Love Bali

BI Ingatkan Pentingnya QRIS Atasi Penularan Covid-19

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, mendukung agenda “We Love Bali” sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata pasca pandem

Anak Agung Seri Kusniarti
Trisno Nugroho, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, mendukung agenda “We Love Bali” sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata pasca pandemi Covid-19 meluas.

“Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia dan Bali, ekonomi terkontraksi cukup dalam. Triwulan I-2020 minus 1,14 persen, semakin dalam triwulan II-2020 minus 10,98 persen,” sebutnya di Denpasar, Selasa (22/9/2020).

Walau demikian, Trisno yakin pada triwulan III dan IV tahun 2020, ekonomi Bali bisa kian membaik. Ia memaparkan, bahwa perekonomian global secara bertahap mulai membaik. Perkembangan ini terutama didorong perbaikan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), sedangkan kinerja perekonomian Eropa, Jepang, dan India belum kuat.

“Perkembangan positif di Tiongkok dan AS, sejalan dengan melandainya penyebaran Covid-19 yang mendorong meningkatnya mobilitas masyarakat global ke level ekuilibrium normal baru dan dampak stimulus moneter dan fiskal yang cukup besar,” ujarnya.

Sejumlah indikator dini pada Agustus 2020, kata dia, mengindikasikan prospek positif pemulihan ekonomi global, seperti meningkatnya mobilitas, berlanjutnya ekspansi PMI manufaktur dan jasa di AS dan Tiongkok, serta naiknya beberapa indikator konsumsi.

Perekonomian domestik secara perlahan juga membaik, meskipun masih terbatas sejalan mobilitas masyarakat yang melandai pada Agustus 2020.“Kinerja ekspor membaik, sejalan kenaikan permintaan global khususnya dari AS dan Tiongkok untuk beberapa komoditas seperti besi dan baja, pulp dan waste paper, serta CPO,” sebutnya.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga membaik secara terbatas seiring berlanjutnya stimulus fiskal, seperti penyaluran bansos dan pemberian gaji ke-13 kepada ASN. Beberapa indikator dini menunjukkan perbaikan seperti penjualan ritel, indeks kepercayaan konsumen, dan PMI Manufaktur.

“Kegiatan ekonomi di Bali juga sudah mulai ada, walaupun masih tertahan dan melambat,” imbuhnya. Keyakinan dan optimisme ini yang membuatnya yakin. Intinya, dengan penerapan protokol kesehatan ketat sesuai CHSE, niscaya ekonomi akan membaik seiring dengan pemulihan kesehatan juga membaik.

Ia berharap triwulan IV-2020, kontraksi ekonomi tidak lagi minus 10 persen namun lebih baik. Ia juga mengingatkan perbankan, agar tetap mengucurkan kredit ke sektor riil agar ekonomi tetap bergerak. “Digitalisasi UMKM, dan transaksi non tunai juga harus digalakkan. Guna mencegah penyebaran virus,” tegasnya. Trisno menyampaikan, dari Rp 103 triliun kredit di Bali 30 persennya telah direstrukturisasi. (ask)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved