JED

Angkat Wisata Alam dan Budaya, JED Jelajahi Nusa Penida

Pagi 23 September 2020, langit berwarna biru, air laut tampak tenang dan angin berhembus pelan. Belasan orang dengan wajah sumringah mendarat di pelab

anak agung seri kusniarti
Selfie - Seorang turis lokal berselfie di Banah Cliff Nusa Penida 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pagi 23 September 2020, langit berwarna biru, air laut tampak tenang dan angin berhembus pelan. Belasan orang dengan wajah sumringah mendarat di pelabuhan Br. Nyuh, Nusa Penida.

Sebuah banner hijau bertuliskan “A Journey for a Powerful Impact on People, Culture and the Environment” milik JED (Jaringan Ekowisata Desa), mencolok menyambut kedatangan mereka. Siska, Program Koordinator JED dengan ramah menyambut para peserta yang akan melakukan tour Nusa Penida.

Masing-masing peserta, diberikan sebuah tas berisikan face shield, masker, hand sanitizer, vitamin C, dan informasi tentang penyelenggara kegiatan. Sesuai protokol kesehatan, mencegah penyebaran pandemi Covid-19. Pemandu wisata dan pengemudi, tampak menggunakan perlengkapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid 19.

Perlahan iring-iringan 3 kendaraan minibus, yang masing-masing berpenumpang 4 orang, berjalan menembus jalanan Nusa Penida yang lengang dan asri. Umah Melajah Bukit Keker, di Desa Ped, adalah tujuan pertama mereka. Umah Melajah Bukit Keker ini, sebuah tempat yang fokus pada pengembangan adat, seni budaya dan lingkungan bagi anak-anak dan kaula muda di Nusa Penida.

Disinilah Yayasan Wisnu, bersama para lembaga mitra, salah satunya JED, memusatkan program yang mereka sebut Ecologic Nusa Penida. Sebuah program peningkatan ketahanan sosial budaya ekologis masyarakat di pulau kecil, dalam menghadapi desakan kuat arus globalisasi. Program ini didukung GEF – SGP Indonesia, dan UNDP (United Nations Development Program).

Di Umah Melajah Bukit Keker ini, ada percontohan solar panel dan biogas sebagai bentuk pemanfaatan energi bersih dan ramah lingkungan, TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu), gallery untuk pajangan produk-produk lokal, model agroforestry sekala rumah tangga, dan sebuah panggung pertunjukan seni budaya.

Tempat inipun dijadikan oleh JED sebagai semacam lobi, bagi rangkaian tournya di Nusa Penida untuk menunjukan prinsip-prinsip desa wisata ekologis yang dilakoninya. Desa wisata ekologis disingkat menjadi DWE. “Dalam Bahasa Bali, DWE memiliki 3 makna, yang menjadi prinsip-prinsip ekowisata yang dikembangkan JED,” jelas Siska, dalam rilis yang diterima Tribun Bali, Kamis (1/10/2020).

DWE bisa berarti potensi yang dimiliki, DWE juga bermakna kepemilikan dan pengelolaan bersama. “Dan DWE juga sebuah konsep berkah atau sakral yang harus terus dilindungi,” jelas I Made Suarnatha, salah satu pendiri JED.

Ketiga prinsip inilah, yang menjadi dasar JED saat mengembangkan ekowisata di sebuah desa atau komunitas. Potensi wilayahnya digali dengan maksimal, mengarahkannya sebagai milik kolektif yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia dan lingkungannya, serta menjadikannya sebagai berkah yang patut dijaga dan dilestarikan.

Di Nusa Penida sendiri, JED melakukan pembentukan DWE di 5 tempat, yaitu di Desa Ped, Desa Batumadeg, Desa Tanglad, Br. Semaya – Desa Suana, dan Desa Batukandik. Di desa-desa tersebut JED sebelumnya telah melakukan berbagai kegiatan, sebelum uji coba ini dilakukan. Mulai dari survey potensi, sosialisasi di tingkat kecamatan dan desa, pelatihan story line untuk mendapatkan cerita dan sejarah menarik tentang desa, pelatihan pemandu lokal, pelatihan kuliner, pelatihan manajemen pengelolaan ekowisata, hingga mengajak warga melakukan study banding ke Desa Tenganan. (ask)

Sumber: Tribun Bali

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved