JED

Liat Kain Cepuk Rangrang, JED Ajak Peserta Nikmati Sunrise di Bukit Atuh Nusa Penida

JED melakukan uji coba tour Ekowisata Nusa Penida ini, selama 2 hari 1 malam. Kamis, 24 September 2020, pagi masih belum menampakan cahayanya, saat pe

anak agung seri kusniarti
Atuh 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – JED melakukan uji coba tour Ekowisata Nusa Penida ini, selama 2 hari 1 malam. Kamis, 24 September 2020, pagi masih belum menampakan cahayanya, saat peserta menembus kabut perbukitan Desa Tanglad menuju pantai Atuh.

Menyaksikan terbitnya matahari di salah satu pantai ikonik ini, tentu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Ketakjuban peserta akan pesona keindahan buah tangan Sang Pencipta, berbanding lurus dengan ketertarikan peserta saat melihat proses pembuatan kain Cepuk dan Rangrang yang dihasilkan masyarakat di Desa Tanglad.

tenun tanglad
Tenun Tanglad

Desa dengan ketinggian 460 meter diatas permukaan laut ini, terkenal dengan produksi kain tradisional tersebut secara turun temurun. “Kain-kain ini bukan hanya berfungsi sebagai pakaian bagi kami, tapi memiliki makna mendalam dalam ritual upacara yang kami lakukan. Misalnya kain Cepuk motif Mekawis ini, khusus digunakan membungkus tulang dalam upacara kematian, serta kain motif Sudamala berwarna hitam putih ini, khusus digunakan saat melukat (ritual meruwat diri),” jelas Alit, Bendesa Adat Tanglad kepada para peserta, dalam rilis yang diterima Tribun Bali, Kamis (1/10/2020).

Ilmu pengetahuan lokal, yang diceritakan masing-masing desa adalah salah satu daya tarik dalam ekowisata desa. “Pariwisata seharusnya bukan hanya tentang selfie, tapi juga tentang tukar-menukar nilai kehidupan yang hadir, karena kecintaan akan wisata itu sendiri. Bukankah kita berwisata karena ingin mencari pengalaman yang berbeda bagi seluruh indra kita, dan untuk mendapatkan pengetahuan baru,” jelas Siska.

Bagi JED, setiap desa atau komunitas pasti memiliki keunikan tersendiri, yang bisa jadi potensi layak untuk disuguhkan, baik segi alamnya, produknya, bahkan makanannya. “JED selalu berusaha menghadirkan makanan-makanan lokal, untuk suguhan bagi para tamu,” jelas Siska bersemangat.

Di Desa Batumadeg yang menjadi destinasi berikutnya, sudah nampak deretan sajian makanan yang menggugah selera. “Disini kami akan menyuguhkan sop ikan tongkol bumbu khas desa kami, sayur urap daun papaya, sambal kecombrang hingga ayam kampung betutu, dengan minuman dari kayu Cang yang segar nan hangat,” jelas Setiawati, mempresentasikan makanan hasil masakannya bersama ibu lainnya.

lunch box
Lunch Box

Peserta nampak mondar mandir, menambah makanan dengan antusias. Beberapa bahkan sampai memesan sambal kecombrang untuk dibawa pulang. “Enak sekali sambalnya,” puji Megumi Maeda, seorang wartawan asal Jepang dari API Magazine, yang ikut menjadi peserta uji coba.

“Saya suka sop kuah ikannya,” puji Guna Warma, salah satu musisi lokal yang juga ikut uji coba ini. Makan siang kemarin juga enak, apalagi pembungkusnya terbuat dari daun pisang. “Enak bagi perut dan lingkungan,” jelas Christopher, seorang website designer, yang juga ikut dalam program ini.

Pariwisata massal yang menjadi industri di Bali, sudah banyak diketahui bukan hanya membawa dampak pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga peningkatan signifikan pada jumlah sampah yang dihasilkan. “JED berusaha meminimalisir produksi sampah dari praktek wisata yang dilakukan.

Selain mengemas makanan dengan pembungkus alami, pihaknya selalu menyarankan para wisatawan membawa botol minum sendiri yang bisa dipakai berulang kali. “Kami menyediakan air dalam galon di dalam kendaraan yang mereka gunakan,” jelas Siska lagi. (ask)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved