Desainer

Hargai Profesionalistas, Kemenparekraf Rilis Buku Bagi Para Desainer di Indonesia

Kemenparekraf RI memfasilitasi 5 asosiasi profesi, dengan sub sektor desain. Diantaranya ADGI, ADPII, Aidia, HDMI, dan HDII, dan menerbitkan sebuah bu

anak agung seri kusniarti
Dian Permanasari (tengah) didampingi Moch Refrajaya (kiri) menunjukkan buku Desainer yang dirilis Kemenparekraf. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Kemenparekraf RI memfasilitasi 5 asosiasi profesi, dengan sub sektor desain. Diantaranya ADGI, ADPII, Aidia, HDMI, dan HDII, dan menerbitkan sebuah buku proyek desain bertajuk “Dasar Pengadaan Pengelolaan Jsa Desain di Indonesia” tahun 2019 lalu. Buku ini menjadi acuan, dalam menghargai profesionalitas seorang desainer. Salah satunya penghargaan dalam urusan pembayaran gaji pada sebuah proyek.

Sebab, selama ini profesi desainer kerap tak mendapatkan sesuatu yang layak. Karena belum ada dasar-dasar yang mengatur, ihwal profesi ini secara mengkhusus. Padahal desainer adalah sosok di belakang layar terwujudnya estetika dan keindahan dalam sebuah karya. Seperti eksterior ataupun interior bangunan,  kerajinan, hingga fesyen.

“Tidak ada acuan harga pasti untuk desainer. Ketimpangan juga kerap terjadi satu sama lain. Bahkan ada yang dibayar 3M, alias makasi, makasi, dan makasi,” tegas Dian Permanasari, Koordinator Kajian Strategis Industri Investasi dan Pemasaran Kemenparekraf, di Kuta, Badung, Kamis (15/10/2020).

Oleh sebab itu, Kemenparekraf menerbitkan buku desainer ini, sebagai panduan bagi para desainer di Indonesia. Buku ini bisa diunduh di laman Kemenparekraf, dan secara fisik akan dicetak untuk dibagikan ke asosiasi desain. Mulai dari menghitung rancangan anggaran biaya, kalkulasi penetapan harga, cara membuat kontrak hingga hak-hak desainer, tertulis jelas di dalam buku bersampul orange tersebut.

Sebelum sosialisasi di Bali, telah dilakukan sosialisasi serupa di di Yogyakarta, dan setelah itu akan dilanjutkan di kota besar lainnya. Bahkan, kata dia, terbitnya buku ini telah dijadikan literatur untuk materi pengajaran pada beberapa institusi pendidikan khususnya perguruan tinggi dengan jurusan desain. Hal ini disambut gembira asosiasi-asosiasi desainer. 

Pasalnya, diakui para desainer di Indonesia, saat ini mereka dianggap sebagai pelengkap, sehingga penghargaan atas profesi desainer dirasakan masih kurang. “Para desainer kerap dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan yang bukan bagian mereka. Posisi tawar pun lemah,” ungkap Moch Reffrajaya, Anggota Dewan Himpunan Desainer Interior Indonesia.

  

Pengguna jasa desainer, kata dia, kerap membuat kompetisi antar para desainer dalam berbagai asosiasi yang berdampak pada perang harga. “Akhirnya selalu dicari yang murah, bukan kualitas. Ini sangat tidak sehat,” tegas Reffrajaya. Setelah buku pertama ini, akan ada buku kedua dan ketiga yang menjadi panduan bagi para desainer dan sedang dalam proses penyusunan, FGD dan lain sebagainya.

Untuk buku kedua, selain 5 asosiasi tadi juga akan mengupas tuntas sektor desainer fesyen. “Proses terbitnya buku ini memang tidak mudah. Kami kumpulkan asosiasi membahas berbagai tantangan di dunia desain. Intinya kami ingin berkolaborasi memajukan industri kreatif bersama-sama,” kata Reffra.

Bukan kemarin sore, ihwal buku ini telah digagas sejak 2016. Profesi desainer di Indonesia sendiri, tergolong lumayan banyak. Berdasar data survei ekonomi tahun 2016, jumlah desainer di Indonesia mencapai 27.264 orang. “Setelah empat tahun pastinya bertambah banyak, apalagi di Indonesia ada 27 perguruan tinggi di bidang interior. Belum lagi desain grafis dan desain fesyen, yang sangat cepat menghasilkan desainer-desainer baru,” imbuhnya. (ask)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved