Wisata Religi

Melukat dan Metamba di Pura Geger Meminta Kesembuhan Hingga Anak

Satu lagi keunikan pura di Pulau Dewata, terletak di Pura Geger Dalem Pemutih, Benoa, Kuta Selatan, Badung. Pura kahyangan jagat, yang telah ada sejak

Anak Agung Seri Kusniarti
Pura Geger 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR –  Satu lagi keunikan pura di Pulau Dewata, terletak di Pura Geger Dalem Pemutih, Benoa, Kuta Selatan, Badung. Pura kahyangan jagat, yang telah ada sejak dahulu kala ini memiliki tempat suci yang disebut taman.

Atau genah pelinggih Ratu Sedahan, di dekat bibir pantai di depan Pura Geger. Jalan masuk menuju lokasi taman ini, adalah jalan setapak kecil. Kiri-kanannya, berisi rimbunan pohon yang tidak terlalu tinggi dengan bunga berwarna kuning.

Beberapa saat kemudian, pamedek akan melihat sejumlah anak tangga yang mengarahkan ke sebuah gua. Di sebelah kanan anak tangga ini, terletak pelinggih dengan kain kuning, putih dan poleng. Beralaskan pasir pantai, lokasi ini kerap dijadikan tempat metamba atau meminta kesembuhan.

Ada 4 pemangku yang bertugas di Pura Geger, satu diantaranya adalah Mangku Geger Sania. “Saya sudah mengabdi menjadi pemangku sejak 1985, menggantikan orang tua saya,” jelasnya kepada Tribun Bali, Rabu (14/10/2020). Ia menceritakan, Ratu Sedahan dipercayai umat Hindu di Bali adalah penguasa seluruh Bali layaknya seorang penasehat atau panglima.

Sehingga banyak masyarakat datang, meminta kesembuhan dan kemudahan rezeki ke Pura Geger. Khususnya ke pelinggih di taman, dekat bibir pantai ini. “Kadang metamba atau melukat. Pamedek bisa membawa dua banten peras pejati, jika ingin sembahyang dan melukat,” sebutnya.

Walau demikian, kadang ada yang membawa tiga banten peras pejati. Satu dihaturkan di Pura Geger, satu di taman, dan satu di Taru Saba atau Taru Sakti di jaba pura. “Taru ini adalah penyawangan Dalem Nusa,” katanya. “Terkadang pamedek yang kebingungan, sakit yang tidak terdeteksi medis, dan bahkan meminta keturunan datang ke Pura Geger, minta agar diangkat penyakit dan dimudahkan jalannya,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, tak jauh dari pura.

Walau demikian, ia menegaskan semuanya adalah karunia Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Kadang ada yang sembuh, kadang ada yang belum jodoh dan tidak terkabul,” tegasnya. Semuanya kembali ke karunia Tuhan. Mengenai prosesnya, setelah menghaturkan peras pejati dan diayab oleh pemangku.

Maka pamedek bisa langsung melukat atau mandi di pantai depan pura. Setelah melukat, dan dibersihkan dengan tirta empul, pamedek berganti pakaian dan sembahyang. “Tirta empul ini, berasal dari klebutan yang ada di bibir pantai dekat pura taman. Ada 3 klebutan air, dua di selatan dan satu di utara,” sebutnya.

Dua klebutan di selatan cukup mudah dijumpai, apalagi saat air laut surut. Sementara satu klebutan di utara cukup susah ditemui. “Yang klebutan utara jarang terlihat, ini juga jodoh-jodohan dengan siapa yang dapat melihatnya,” jelas pemangku. Walau demikian, ketiga klebutan ini bisa terlihat saat purnama dan saat air surut sekitar pukul 14.00 siang.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved