Wisata Religi

Wisata Religi, Banyak Pejabat Datangi Pura Maospahit Tatasan 

Cagar budaya nasional, Pura Maospahit, menyimpan banyak misteri dan kekayaan budaya yang kaya akan sejarah. Satu diantaranya, adalah banyak orang yang

anak agung seri kusniarti
Pura Maospahit 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Cagar budaya nasional, Pura Maospahit, menyimpan banyak misteri dan kekayaan budaya yang kaya akan sejarah. Satu diantaranya, adalah banyak orang yang kerap nunas tamba atau meminta obat dan rezeki di pura ini. 

Berdasarkan penelusuran Tribun Bali, pura ini menyimpan banyak peninggalan saksi sejarah. Sehingga menjadi cagar budaya nasional. Ada banyak pelinggih di tengah pura, seperti pelinggih Ratu Muter, Ratu Biang, Serulun Payang, hingga Gedong Ratu Gede. 

Ada pula gedong khusus, tempat Ida Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni Tatasan. Berupa bangunan terpisah yang tertutup. Jro Mangku Ketut Rendo, menjelaskan di sesuhunan Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni ini, banyak yang meminta bantuan dan tamba. 

“Banyak yang datang, pejabat juga banyak nunas tamba. Ada yang meminta sembuh, ada yang mau kuliah, ada yang meminta ini itu,” katanya kepada Tribun Bali, Minggu (18/10/2020). Pemangku berusia 90an ini, terlihat berusaha mengingat-ingat karena sudah lanjut usia. 

Ia mengatakan, banyak yang doa dan permintaannya dikabulkan oleh Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni. Namun ada juga beberapa yang belum berjodoh, dan belum terkabul apa yang diinginkannya. “Artinya beliau (bhatara) sangat baik dan royal pada dasarnya,” jelasnya. 

Bahkan ada pamedek suami-istri, yang pernah datang dan memohon anak ke sana. “Mereka sampai makemit (menginap) di pura. Dan akhirnya mereka mendapatkan keturunan,” jelasnya bahagia. Intinya, saat meminta doakan saja dengan tulus ikhlas pada pelinggih di sana. Sehingga apa yang diinginkan bisa didapatkan. 

Hanya dengan membawa dua banten peras pejati, pamedek bisa datang dan berdoa di Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni. “Nanti dihaturkan di ajeng pelinggih satu, di gedong tempat berstana Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni satu,” sebutnya. 

Tujuannya satu untuk mapakeling, memberitahu bahwa berdoa dan meminta petunjuk serta kesembuhan. Prosesinya setelah ngayab, muspa atau sembahyang, dan meminta tirta. Ada kisah unik, di balik sesuhunan Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni ini. 

“Sesuhunan ini adalah berupa barong ket, dahulu kala seluruh tubuh barong terbakar. Dan tersisa tapel atau bagian wajahnya saja. Kemudian berkali-kali dicarikan kayu untuk kembali dirangkai namun tidak pernah berhasil selalu rusak,” jelasnya. 

Sampai akhirnya semua orang menyerah, dan meminta petunjuk kepada pedanda. Dicarikan kayu ke sana ke sini, dan dimohonkan namun selalu tidak berhasil. Akhirnya tapel atau bagian wajahnya di bawah ke laut untuk dilarung. Namun begitu sampai di laut, banyak yang kerauhan. Dan beliau sesuhunan Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni juga datang ke tubuh jro mangku ini. 

Mengatakan bahwa beliau memang ingin bermandikan geni atau api, dan meminta agar jangan dilarung di laut. Akhirnya dibuatkan banten sesuai permintaan, dan dicarikan kayu cempaka ke Pura Taman Sari. Untuk merangkai kembali tubuh barong Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni ini. Dan sejak saat itu, sampai sekarang sesuhunan barong ket Ratu Ayu Sapuh Jagat Candra Geni ini aman tanpa ada kejadian layaknya terbakar atau rusak seperti dahulu kala. 

Sesuhunan ini pun memberikan karunianya kepada umat Hindu di sekitar pura, dan seluruh Bali yang datang memohon padanya. Ada yang metamba meminta anak, pekerjaan, atau memyembuhkan penyakit yang tak kunjung selesai secara medis. Di pura ini ada pula tempat melukat, dan pamedek bisa datang ketika pasah. Ada dua banjar yang nyungsung pura ini yakni Banjar Tatasan Kelod dan Tatasan Kaja. (ask)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved