Travel

Meski Mudah Dibawa, Ternyata Mi Instan Tidak Disarankan Jadi Bekal Buat Naik Gunung

bentuk mi instan yang mudah dan ringan untuk dibawa serta penyajian yang cepat menjadi alasan bagi para pendaki untuk membawanya sebagai bekal

Editor: Alfonsius
Istimewa
Ilustrasi mi instan 

TRIBUN-BALI.COM - Siapa yang tidak suka mi instan?

Rasanya hanya sedikit orang yang tidak suka mengonsumsi mi instan. Makanan paling populer di kalangan anak kos ini menjadi salah satu primadona para pendaki gunung.

Betapa tidak, bentuk mi instan yang mudah dan ringan untuk dibawa serta penyajian yang cepat menjadi alasan bagi para pendaki untuk membawa makanan cepat saji ini sebagai bekal.

Baca juga: Educational Camp di Muncak Sari, Sensasi Nge-Camp di Areal Kebun Kopi

Baca juga: The Mill Dewata Hadirkan Promo Indonesian package dan Western package

Baca juga: We Love Bali, Cegah Kluster Wisata Supir Pawiba Ikuti Rapid Tes

Baca juga: BRI Permudah Masyarakat Terima Bantuan BPUM Dari Pemerintah

Mi instan menjadi salah satu makanan cepat saji yang paling digandrungi orang-orang

Tidak bisa dipungkiri, mi instan menjadi salah satu makanan favorit sebagian besar orang mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, orang kaya maupun orang biasa, anak kos juga pegawai kantoran.

Harus diakui, mi instan menjadin salah satu makanan favorit, bukan saja karena banyak cirta rasa tetapi juga karena murah dan mudah dimasak.

Ternyata para pendaki gunung juga biasanya membawa bekal mi instan saat melakukan geiatan pendakian ke gunung.

Alasan paling umum memnbawa mi instan bagi pendaki adalah karena ringan, mudah dibawa dan mudah dimasak.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyajikan semangkuk mi instan.

Meskipun begitu ternyata mi instan tidak disarankan oleh ahli gizi untuk dijadikan bekal bagi pendaki.

Menurut Ahli Gizi Komunitas, dr Tan Shot Yen, mi instan memiliki kadar garam yang tinggi dan membuat seseorang bisa cepat haus.

"Kandungan garam yang tinggi membuat lekas haus dan malah bisa menimbulkan dehidrasi. Dalam satu bungkus mi instan memiliki kandungan garam 37 persen," kata dia saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/9/2020).

Tak hanya karena mengandung garam yang tinggi, dr Tan juga membeberkan empat alasan lain agar mi instan tidak lagi menjadi bekal makanan ketika pendakian.

Berikut lima alasan sebaiknya mi instan tidak jadi bekal makanan saat mendaki gunung:

1. Kandungan garam yang tinggi

Satu bungkus mi instan, seperti penjelasan dr Tan, memiliki 37 persen kandungan garam.

Angka tersebut termasuk tinggi dalam produk makanan.

Kandungan garam yang tinggi itu mampu membuat seseorang atau pendaki merasa cepat haus.

Bahaya yang ditimbulkan jika manusia merasa cepat haus adalah dehidrasi.

Ia melanjutkan, konsumsi garam yang berlebih juga dapat menyebabkan kalium atau potasium menjadi rendah.

Hal ini menimbulkan tekanan darah seseorang naik dan berisiko menyebabkan penyakit jantung.

Mengonsumsi garam berlebih juga mampu menimbulkan kerusakan pembuluh darah yang bisa berisiko pikun, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke hingga penyakit ginjal kronik.

Kandungan garam yang tinggi juga mampu menyebabkan kegemukan, kerapuhan tulang, dan kanker lambung meningkat.

2. Hanya ada tepung minim nutrisi

Ketika membeli mi instan, seseorang akan tergoda dengan gambar mi yang lengkap dengan sayur dan lauknya.

Menurut dr Tan, seseorang jangan terkecoh dengan gambar tersebut.

Ia menuturkan, dalam satu bungkus mi instan hanya mengandung tepung.

"Yang kelihatan lengkap itu cuma iming-iming gambar di bungkusnya. De facto isi bungkusnya enggak jauh-jauh cuma tepung minim nutrisi," ujar dia.

3. Bukan sumber tenaga yang dibutuhkan pendaki

Ia menilai, mi instan bukan merupakan sumber tenaga yang dibutuhkan pendaki gunung sejati.

Pendaki gunung yang sejati, kata dia, adalah seseorang yang memanfaatkan anugerah pemberian Tuhan.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar para pendaki bisa membeli bahan makanan yang berasal dari alam, seperti ubi, singkong, kentang, jagung, dan talas.

"Satu bungkus mi instan rata-rata ada 180-200 kilokalori (kkal).

Manusia normal dewasa rata-rata butuh 2.000-an kkal.

Yakin mau makan mi instan 10 bungkus per hari?" tanya dr Tan.

4. Tidak mencukupi kebutuhan kalori seorang manusia dewasa

Manusia hidup membutuhkan kalori setiap harinya.

Jelas dr Tan, seorang manusia dewasa membutuhkan sekitar 2.000 kkal setiap harinya.

Namun, hal itu tidak akan bisa dilakukan hanya dengan mengonsumsi mi instan.

Menurut datanya, satu bungkus mi instan rata-rata hanya memiliki 180-200 kkal.

"Selain itu, kelebihan garam yang luar biasa pada mi instan. Miskin protein dan nutrisi lainnya," tambah dia.

5. Bukan karbohidrat pilihan pangan pendaki gunung sejati

Alasan terakhir yang ia beberkan adalah mi instan bukan merupakan karbohidrat pilihan pangan seorang pendaki sejati.

Ia menuturkan, seorang pendaki seharusnya menghargai pemberian Tuhan, yaitu bahan pangan alami, misalnya ubi, singkong, kentang, jagung, dan talas.

"Makanan dari alam memberi keseimbangan nutrisi dan padat gizi," paparnya.

Mengonsumsi mi instan di gunung, tambah dia, juga dapat menimbulkan manusia terancam hipotermia, gangguan defisit kalori, dan gangguan pencernaan.

Lebih jauh, dr Tan juga menjelaskan alasan masih banyak pendaki gunung yang membawa bekal mi instan.

Itu karena banyak pendaki berpikir mendaki gunung adalah rekreasi biasa, bukan surviving.

"Jadi, lebih baik besok kalau naik gunung bawa umbi, jagung, semua sumber karbo yang amat baik. Jangan lupa bawa juga buah. Tinggal siasati protein, jangan kornet," kata dia.

Dr Tan juga memaparkan bahwa dalam satu bungkus mi instan biasanya memiliki kandungan sebagai berikut:

* 188 gram kalori

* 27 gram karbohidrat

* 7 gram lemak total

* 3 gram lemak jenuh

* 4 gram protein 0,9 gram serat

* 861 miligram natrium

* Tiamin: 43 persen tiamin dari rekomendasi harian

* 12 persen folat dari rekomendasi harian

* 11 persen mangan dari rekomendasi harian

* 10 persen besi dari rekomendasi harian

* 9 persen niacin dari rekomendasi harian

* 7 persen dari riboflavin. (*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved