Sisi Lain Pura Taman Mumbul: Jika Ikan Jegeg Muncul di Permukaan, Jadi Bentuk Peringatan

Sisi Lain Pura Taman Mumbul: Jika Ikan Jegeg Muncul di Permukaan, Jadi Bentuk Peringatan

tribun bali/AA Seri Kusniarti
Pamedek melukat di Pancoran Solas Taman Mumbul Sangeh Badung 

Penulis :  AA Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Pura Taman Mumbul di Sangeh, Badung, belakangan kian terkenal.

Setelah beberapa tahun lalu, hadirnya destinasi wisata melukat Pancoran Solas, Taman Mumbul, Sangeh.

Pamedek hari ke hari, kian membludak datang khususnya pada hari raya umat Hindu di Bali.

Seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, Galungan, Kuningan, dan hari raya besar lainnya.

Baca juga: Melukat dan Metamba di Pura Geger Meminta Kesembuhan Hingga Anak

Namun sejak pandemi Covid-19, masuk ke Bali pada Maret 2020.

Membuat destinasi wisata religi ini ditutup sementara, selama 4 bulan.

Kini penglukatan kembali dibuka, dan pamedek mulai datang bersama keluarga ke Pancoran Solas Taman Mumbul.

Ada yang memang niat melukat, ada yang hanya plesiran menikmati alam dan telaga besar di sebelah utara lokasi penglukatan.

Ada kisah unik, yang diceritakan I Gusti Agung Made Adi Wijaya, Ketua Pengelola Penglukatan Pancoran Solas Taman Mumbul Sangeh.

Dahulu saat pria yang akrab disapa Gung Adi ini masih kecil, ia dan teman-temannya kerap berenang di tegala tersebut.

“Kami lomba berenang dari tepi sampai ke meru di tengah telaga,” jelasnya kepada Tribun Bali, Rabu (28/10/2020).

Sejatinya, kawasan telaga ini adalah kawasan suci karena berada diantara Pura Taman Mumbul.

Baca juga: Mengenal Sosok Ajik Topok, Seniman Bali Yang Berkarir Sejak Tahun 1982

“Meru di tengah telaga itulah Pura Taman Mumbul. Kalau di atasnya itu, adalah pura subak yang pengemponnya Subak Sangeh sebagai sumber air irigasi sawah,” imbuhnya.

Untuk itu, saat ini pengunjung tidak diperkenankan berenang di telaga dengan air berwarna hijau kebiru-biruan ini.

Apalagi memang telaga ini sangat dalam, dengan kedalaman di pinggir sampai 4 meter dan di tengah telaga sampai 15 meter.

“Sumber air di dasarnya adalah klebutan besar dan ada yang kecil,” katanya.

Dahulu juga ikan di telaga ini bisa dipancing dan dikonsumsi.

Namun saat ini, aparat desa tidak mengizinkan aktivitas tersebut.

Demi kelestarian ikan dan kebersihan di sana.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved