Taman Sari Waterfall

Bidadari Mandi, Sensasi Wisata Spiritual di Taman Sari Waterfall Natural Pool

Mungkin Taman Sari Waterfall Natural Pool, sudah banyak dikenal orang. Sebab walau terbilang destinasi baru, yang menawarkan view air terjun dan kolam

Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Anak Agung Seri Kusniarti
Taman Sari Waterfall Natural Pool 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Mungkin Taman Sari Waterfall Natural Pool, sudah banyak dikenal orang. Sebab walau terbilang destinasi baru, yang menawarkan view air terjun dan kolam alami. Namun sejatinya, sejak lama destinasi ini sudah ada di antara perbatasan Gianyar dan Bangli. Destinasi di Jalan Ngenjung Sari, Desa Bakbakan, Gianyar ini, belakangan memang digandrungi pelancong.

Khususnya pelancong lokal, cukup membludak sebelum adanya pandemi Covid-19 di Bali. Namun saat ini, pelancong yang datang bisa dihitung dengan jari. Jauh dari kata ramai, seperti sebelumnya saat pandemi belum menyerang. Destinasi ini ditata sedemikian rupa, sehingga kian cantik dan asri. Kolam alami pun dibuat, untuk memanjakan pengunjung yang ingin berenang selain menikmati guyuran air terjun.

Tiket masuk sangat terjangkau, hanya Rp 15 ribu per orang. Dengan fasilitas lengkap, mulai dari kamar mandi, ruang ganti pakaian, gazebo, hingga akses jalan yang baik. Sayangnya sejak pandemi masuk, dan diperketatnya aturan sosial serta physical distancing, kunjungan merosot tajam. Made Suyasa, satu diantara petugas kepada Tribun Bali, berseloroh penurunan cukup drastis.

“Sejak Covid-19 menyerang, pengunjung turun drastis. Kalau dulu pendapatan bisa Rp 2juta-Rp 3juta. Sekarang paling antara Rp 400 ribu-Rp 500 ribu saja untuk tiket masuk,” sebutnya. Dahulu kunjungan saat weekend bahkan mencapai ratusan, kini puluhan pun sudah sangat beruntung. “Harapan kami semoga pandemi ini segera berakhir, dan semuanya kembali sediakala,” jelasnya kepada Tribun Bali, Rabu 17 Februari 2021.

Walau demikian, pelayanan tetap optimal dari petugas yang berjaga di area destinasi. Ada total 32 orang petugas yang giliran berjaga. Setiap harinya standby sekitar 4 orang. Bertugas menguras air kolam di sore hari, dan mengganti air kolam dengan air baru di pagi hari. Petugas sendiri datang dari Banjar Ngenjung Sari. “Kami buka setiap hari, dari pukul 08.00 Wita sampai 18.00 Wita. Kalau hujan dan air keruh serta deras kami terpaksa tutup, demi keamanan pengunjung,” katanya.

Petugas pun tetap siaga menjaga, khususnya jika ada anak-anak yang berenang. Rata-rata petugas di sana bisa berenang, demi membantu pengunjung jika ada yang tidak bisa berenang. Namun jangan salah, di sini tidak hanya destinasi wisata biasa saja. Sebab di area Taman Sari Waterfall ada genah malukat yang memang sudah ada sejak lama. Bernama Beji Taman Sari, yang berada di atas area kolam alami.

Ada akses jalan terpisah, untuk menuju lokasi ini dan pengunjung yang boleh masuk harus memakai kain. Sebab pasiraman (tempat mandi) Beji Taman Sari ini adalah pasiraman Ida Bhatara, sebelum adanya piodalan di wilayah setempat. Ada tiga pancoran di area pasiraman ini. Kemudian ada satu pancoran yang berada di dekat jalan menuju kolam. Di sana juga pengunjung boleh malukat, dengan menghaturkan minimal canang sari atau peras pejati.

Ada pula pancoran tirta dedari (bidadari) di dekat air terjun bagian atas. “Biasanya Purnama atau Tilem ramai yang malukat ke sini,” sebutnya. Berdasarkan kisah para tetua di sana, konon zaman dahulu kala ada bidadari dari kahyangan yang turun dan mandi ke Taman Sari Waterfall. Sejak saat itulah disebut pancoran dedari. “Kemudian ada cerita lagi yang saya dengar, bahwa di bagian air terjun atas, ada anak lingsir berbusana putih. Lalu di bawah di bagian kolam ada anak lingsir berbusana hitam. Ini cerita dari zaman dahulu,” katanya.

Kedua anak lingsir ini, konon adalah penjaga dari areal Taman Sari Waterfall sejak dahulu kala. Ternyata ada banyak kisah dari pengunjung, satu diantaranya adalah dari Denpasar. Pengunjung dari ibu kota ini, sengaja datang untuk malukat di area pancoran dedari. Awalnya ia sakit kaki, namun entah mengapa begitu berendam dan malukat di sana sakitnya membaik.

Ia menjelaskan, bagi yang ingin malukat bisa datang dengan kain dan banten baik canang sari maupun pejati. Bisa dihaturkan sendiri-sendiri di area malukat. Serta tidak dalam kondisi cuntaka atau kotor. Untuk area malukat, airnya bisa langsung diminum karena merupakan air klebutan dari bawah pohon. Sedangkan di area air terjun dan kolam alami airnya tidak boleh diminum, karena merupakan air sungai. (ask)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved