Asita Bali

Dorong Vaksinasi, Winastra Sebut Insan Pariwisata Siap Sambut Era Baru

Ketua DPD Asita 1971, I Putu Winastra, terus mendorong agar vaksinasi guna mencegah Covid-19 kian diperluas. Khususnya di kalangan insan pariwisata, s

Anak Agung Seri Kusniarti
Ketua DPD Asita Bali, I Putu Winastra, S.Sos. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

Tribun-Bali.Com, Denpasar - Ketua DPD Asita 1971, I Putu Winastra, terus mendorong agar vaksinasi guna mencegah Covid-19 kian diperluas. Khususnya di kalangan insan pariwisata, sehingga kesiapan dalam travel bubble bisa segera dilakukan. Mengingat sudah lebih dari setahun, pariwisata di Bali mati suri. Membuat ekonomi terperosok dalam, masyarakat tidak berpenghasilan, dan pehaka di sana- sini. 

"Awalnya pekerja pariwisata dari stakeholder BTB daftar melalui linknya Gipi Bali. Nah kemudian ternyata ada juga asosiasi yang tidak menjadi bagian dari Gipi Bali. Sehingga bisa dikatakan banyak yang tercecer khususnya di luar anggota Gipi Bali," sebutnya, Jumat 12 Maret 2021 di Denpasar.

Akhirnya, pada akhir Februari 2021 Pemprov Bali melalui Disparda Bali membuat link baru. Untuk pendaftaran vaksin untuk pekerja pariwisata. Di sana tertera semuanya. Jadi di sana ada link, apakah bekerja di travel, hotel, atau destinasi pariwisata dan lain sebagainya. Semuanya ada di link tersebut. "Sangat simple, dan ada NIK juga di sana. Jadi pendaftaran sendiri, melalui link yang diberikan oleh Disparda Bali itu," sebut pria yang juga Waketum DPP Asita 1971 ini. 

Link ini akan terhubung dengan Grab, sebab secara teknis memang ditangani oleh Grab. Lalu nanti setelah terdaftar akan di-SMS oleh Grab ke handphone masing-masing pekerja pariwisata. Sebab sifatnya random, untuk dikonfirmasi kapan vaksinnya dilakukan. Sesuai dengan lokasi masing-masing pekerja pariwisata yang telah mendaftar. 

"Saya meyakini bahwa nantinya vaksinasi itu akan terkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota. Sehingga lebih mudah dalam melakukan vaksinasinya," jelas Winastra. Khusus untuk anggota Asita 1971, juga belum semua divaksin. Sebab adanya pembatasan, terkait dengan sosial dan physical distancing. "Satu hari itu Grab kan menyalurkan 800 vaksin, jadi tidak mungkin orang itu semua sekali datang," tegasnya. 

Apalagi anggota Asita 1971 saja, berkisar sekitar 2.500an. Sehingga otomatis tidak selesai dalam sehari vaksin. Pantauannya, member atau anggota yang sudah divaksin berkisar 30-40 persen. Sisanya ini harus menunggu, kiriman SMS dari Grab untuk jadwal vaksin selanjutnya. 

"Jadi sebelum mendapatkan SMS kan belum bisa," imbuhnya. Pihaknya berharap, kepada pemerintah agar vaksin ini selesai Maret 2021 untuk pekerja pariwisata. Sehingga pelan tapi pasti, border Bali bisa dibuka untuk market pariwisata internasional. "Kan ada skemanya, makanya digenjot vaksinasi ini," sebutnya. Sehingga ada alasan yang jelas ke dunia internasional, tentang kesiapan pekerja pariwisata di Bali. Khususnya dari antisipasi terhadap Covid-19 yang sedang mewabah. 

Ia mengatakan, ada sekitar 4 negara asing yang sudah ingin datang ke Indonesia khususnya Pulau Dewata. Diantaranya adalah China, Korea Selatan, Middle East, dan Singapura. "Ini yang sudah siap ke Bali," tegasnya. China pun, kata dia, sejatinya sudah siap ke Bali dengan charter flight. Namun masih menunggu kapan kepastian border akan dibuka. 

"Info yang saya dapatkan, Grab kan mempunyai database yang besar. Sehingga Grab yang dipercaya melakukan vaksinasi secara teknis," katanya. Semuanya terkait dengan big data. Sementara untuk sisa member Asita 1971 yang belum divaksin. Ia berharap bisa segera dilakukan vaksinasi selanjutnya. Sehingga minimal Maret sudah bisa dibuka untuk border Bali. Atau maksimal sebelum akhir tahun, agar insan pariwisata bisa sedikit bernafas. "Jangan sampai akhir tahun, kalau bisa triwulan satu sudah ada pergerakan," tegasnya. (ask)

Sumber: Tribun Bali

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved