Destinasi Bali

Membuat Klepon, Eksplorasi Pangan Lokal Bali

Masyarakat ADT membentuk Tim 9 yang berisi sembilan tokoh adat, untuk memulai tahapan permohonan ini. Perjuangan ini, kata Jro Putu Ardana, bisa dibil

Istimewa
Kegiatan membuat klepon di Desa Umajero 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Masyarakat ADT membentuk Tim 9 yang berisi sembilan tokoh adat, untuk memulai tahapan permohonan ini. Perjuangan ini, kata Jro Putu Ardana, bisa dibilang berdarah-darah karena terbentur lambatnya respon serta proses birokrasi di pemerintahan tingkat kabupaten.

Sembari terus berjuang, Tim 9 beserta anak-anak muda dan masyarakat ADT, juga menggali potensi-potensi di Catur Desa. Mereka melakukan kegiatan di dalam hutan, yakni melakukan inventarisasi isi hutan dengan melibatkan para pemburu dan orang-orang tua yang hafal isi hutan. Kegiatan juga dilakukan di luar hutan, yakni menggali potensi-potensi desa.

Salah satunya adalah eksplorasi pangan lokal. Pohon keladi atau talas, dicontohkannya tumbuh sangat mudah di desa, namun sebagian besar pengolahannya baru sebatas digoreng dan direbus. Dalam kesempatan itu juga dikenalkan produk pangan olahan desa, yakni keripik pisang yang diolah Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Umejero juga keripik keladi dua rasa suna cekuh dan pedas manis, olahan kelompok perempuan Desa Gobleg.

Peserta juga dijamu dengan olahan khas desa yang sebagian besar bahannya diambil dari kebun, lawar daun belimbing, urap sayur paku dan sayur jelengot, sate lembat, dan yang unik adalah daging durian yang dibumbui sune cekuh. Lepas makan siang, para peserta menuju ke masing-masing desa.

Desa Umejero merupakan bagian dari Catur Desa yang terletak di Kecamatan Busungbiu. Di sini peserta diajak belajar memahami fungsi hutan sebagai sumber pangan. Lanskap desa ini adalah persawahan serta pohon cengkeh dan kopi yang mendominasi. Menurut cerita Nyoman Sucana, yang juga anggota Tim 9, nama Umejero berasal dari kata uma (sawah) dan jero (jeroan), yang berarti hasil bumi berupa beras putih, merah dan injin dari uma yang dihaturkan ke jeroan (Tamblingan), biasanya untuk keperluan ritual upacara.

Dalam trip desa, peserta mengunjungi kediaman Nyoman Sadiadnya, yang memproduksi kopi bubuk. Ia mengenalkan alat pemanggangan kopi yang ia buat secara otodidak. KWT (Kelompok Wania Tani) Desa Umejero menjual kopi bubuk rumahan dengan harga yang terjangkau, dan kualitas yang nikmat. Di sana peserta juga ditunjukkan tempat pengolahan air minum kemasan, Amiro (Air Umejero) yang berada di sebelah rumah Nyoman Sadiadnya.

Juga air minum kemasan Toya Ning. Perjalanan kemudian berlanjut menuju air terjun Lebah, melewati areal persawahan dan kebun-kebun milik warga. Peserta pun dikenalkan dengan sumber pangan lokal, seperti bagian-bagian yang bisa diolah dari pohon kelapa untuk lawar, sayur-sayuran sejenis bayam seperti jelengot, kecombrang yang bisa dimanfaatkan umbi dan bunganya untuk sambal. 

Lalu kecipir atau kelongkang, juga talas. Ibu-ibu KWT Desa Umejero juga mengajarkan, peserta cara membuat klepon, kudapan manis yang berisikan gula aren, dan menikmatinya di dekat air terjun. Sajian makan malam di Umejero, disiapkan oleh ibu-ibu juga para patus lanang. Tukang masak laki-laki, di rumah Jro Adi. Menunya sederhana, plecing kacang panjang, sate ayam, sambal bongkot, dan kecobor. 

Olahan sup daun belimbing dan daging ayam cincang. Nyoman Sutiwa dan Putu Suista, adalah dua patus makan malam yang juga akan menyiapkan makan siang di keesokan harinya di Tamblingan. Di Desa Gesing, peserta diajak untuk belajar hutan sebagai sumber keanekaragaman hayati. Peserta diajak trekking menyusuri kawasan pedesaan, belajar beragam padi yang sedang tumbuh subur, mulai dari padi yang mengasilkan beras C4 hingga padi lokal beras merah Cendana yang tumbuh tinggi. 

Dengan segala permasalahan yang dihadapi petani. Peserta juga diajak mengenali beragam pohon dan fungsinya bagi hutan dan masyarakatnya, dari mulai pohon bunut, cengkeh, durian dan sebagainya. Ragam hayati yang ada di kawasan Desa Gesing adalah sumber penghidupan dan juga sumber pengetahuan bagi masyarakatnya. “Hutan haruslah memiliki beragam tumbuhan yang hidup, baik yang tumbuh tinggi maupun yang merayap di tanah. Karena mereka menjaga persediaan air dan kesuburan tanah. Kawasan dengan pohon yang seragam atau monokultur, tidak bisa disebut hutan karena mereka cenderung merusak tanah,” jelas Willy Suputra yang menjadi pemandu peserta di Desa Gesing.  

Di Desa Gobleg, fokus kegiatan peserta adalah Hutan sebagai sumber air. Kegiatan yang dilakukan antara lain dengan menyusuri sumber mata air yang mengalir ke desa tersebut, dari Alas Mertajati. Salah satunya adalah mata air Medaum. Selain itu, peserta juga mengunjungi beberapa air terjun yang ada di Desa Gobleg, yaitu air terjun Melanting, air terjun Labuan Kebo, dan air terjun Tanah Barak. 

Seluruh kawasan Alas Mertajati adalah bentang sumber-sumber air. Tidak hanya Danau Tamblingan, tapi seluruh mata air di kawasan hutan, juga seluruh air terjun yang berada di Catur Desa. Air inilah yang mengalir melalui sungai-sungai, terus mengalir hingga ke hilir. Alas Mertajati menyediakan sumber air yang luar biasa bagi penghidupan warga sekitarnya.

Pada kesempatan tersebut, peserta belajar tentang bagaimana masyarakat Catur Desa memuliakan air melalui kegiatan konservasi dan ritual keagamaan. “Sumber-sumber air yang kita lewati ini, yang indah ini, semuanya berasal dari Alas Mertajati. Jadi sudah sepatutnya kami memuliakan hutan tersebut,” jelas Basma yang menjadi pemandu peserta di desa Gobleg. 

Laku memuliakan air dibentengi oleh pura-pura yang berada di dalam dan sekitar kawasan hutan. Praktik ritual dijaga secara berkelanjutan untuk memuliakan hutan dan air untuk menjaga vibrasi kawasan Adat Dalem Tamblingan di Catur Desa.

Keesokan hari, perjalanan berlanjut menuju Alas Mertajati. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok yang akan menempuh dua rute berbeda, dari Pura Gubug dan Bencingah Kangin, sama-sama menuju Pura Dalem Tamblingan, kemudian ber-pedau (perahu tradisional) menyeberangi danau menuju Pura Gubug, lokasi acara terakhir di Tamblingan.

Di akhir acara, para muda Catur Desa membagi ihwal partisipasi dalam proses perjuangan menjadikan Alas Mertajati sebagai hutan adat. Ketut Santi Adnyana, salah satu pemuda yang dari awal terlibat dalam perjuangan ini  ingin anak cucu ke depan, tetap bisa melihat Alas Mertajati yang masih lestari. 

"Kalau kami tidak terlibat, apa sumber kehidupan yang akan kami wariskan ke mereka kelak?,” tegasnya. Ada keharuan juga tekad yang mulia. "Ada satu hal yang cukup penting, yakni spiritualitas sebagai panjak penghulu,” ujar Jro Putu Ardana. Seperti diungkapkan Jro Putu Ardana, dengan itikad ini mereka ingin menguatkan atau menghidupkan kembali nilai-nilai yang masyarakat ADT miliki sebagai masyarakat hukum adat yang keimanannya disebut menganut Piagem Gama Tirta yakni memuliakan air dan menjaga harmoni dengan alam.

Kegiatan paket belajar ini pun diapresisi dengan sangat positif oleh peserta dengan masukan yang konstruktif. Berwisata sembari mengenal lebih dekat tradisi dan potensi masyarakat ADT, di Catur Desa yang menjaga kawasan hutan dan danau Tamblingan agar tetap lestari dengan keyakinan untuk tidak mengeksploitasi hutan secara berlebihan. “Kami ingin pariwisata yang berkembang di sini adalah quality tourism, bukan yang mass tourism,” pesan Jro Putu Ardana. (ask) 

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved