Hiburan

Menjaga Alas Mertajati, Memuliakan Tradisi dan Kehidupan yang Lestari

Hutan dan Danau Tamblingan, oleh masyarakat Adat Dalem Tamblingan (ADT) di Catur Desa (Desa Gobleg, Desa Munduk, Desa Gesing, Desa Umejero) dinamakan

Istimewa
Kegiatan peserta berendam di Desa Gesing. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hutan dan Danau Tamblingan, oleh masyarakat Adat Dalem Tamblingan (ADT) di Catur Desa (Desa Gobleg, Desa Munduk, Desa Gesing, Desa Umejero) dinamakan sebagai Alas Mertajati, atau sumber kehidupan yang sesungguhnya, untuk kehidupan berkelanjutan.

Berangkat dari keyakinan itu, Jaringan Ekowisata Desa (JED), mengajak para peserta dengan latar belakang berbeda dari akademisi, penulis, aktivis dan fotografer, mengikuti undangan dari masyarakat Adat Dalem Tamblingan (ADT), Yayasan Wisnu dan JED, untuk melakukan uji coba paket belajar Desa Wana Edukasi di kawasan Adat Dalem Tamblingan. 

Termasuk Alas Mertajati di dalamnya. Uji coba paket belajar ini, berlangsung selama dua hari. Kegiatan ini merupakan bagian dari program memuliakan kembali Alas Mertajati Tamblingan, dalam upaya mengembalikan kesucian dan fungsi kawasan hutan dan Danau Tamblingan.

Dengan dukungan dari Dedicated Grant Mechanism Indonesia (DGMI). Dengan tiga isu berbeda, yakni hutan sebagai sumber air, hutan sebagai sumber keanekaragaman hayati, dan hutan sebagai sumber pangan, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Yang akan mengenal lebih dekat potensi di desa Gobleg, Gesing dan Umejero. 

Sedangkan di Desa Munduk, peserta akan diajak belajar tentang Alas Mertajati itu sendiri. Langit biru dan udara sejuk menyelimuti arena di Desa Gobleg, tempat di mana para peserta disambut dan diberikan pembekalan singkat oleh Dane Pengerajeg, selaku pemimpin adat tertinggi di ADT. Serta para penglingsir Catur Desa, juga Ketua Tim 9 masyarakat adat Dalem Tamblingan, Jro Putu Ardana.  

Dane pengerajeg bercerita singkat mengenai cikal bakal masyarakat ADT, peran vital Alas Mertajati sebagai sumber kehidupan, dan keterkaitannya dengan Catur Desa. Jro Putu Ardana, kemudian menambahkan perjuangan masyarakat ADT untuk menjadikan Alas Mertajati sebagai hutan adat masih berlangsung hingga kini.

Sejak zaman dahulu, tradisi konservasi untuk menjaga Alas Mertajati telah ada. Jro Putu Ardana meyakini bahwa Alas Mertajati, adalah sumber kehidupan karena hutan yang lebat berperan besar dalam menyimpan air. Selaras dengan hal tersebut, Denik Puriati, Direktur Yayasan Wisnu pun, menyatakan hal serupa. Bahwa hutan berperan sebagai sumber air, sumber pangan, dan sumber pengobatan, sehingga mesti dijaga. 

“Belajar tentang hutan lestari itu, tidak perlu kita mengoyak-ngoyak hutan, tidak perlu sampai merusak. Kita bisa belajar melestarikan hutan sebagai sumber kehidupan bagi sekelilingnya, di empat desa,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Tribun Bali, Senin 10 Mei 2021.

Kini kawasan danau dan hutan Tamblingan, yang termasuk dalam kawasan Cagar Alam Batukaru dikelola negara dengan status sebagian sebagai taman wisata alam. Bagian lainnya sebagai hutan lindung dan cagar alam. “Seharusnya kan kami senang ada negara yang juga ikut menjaga hutan. Tapi yang terjadi, hutan itu mengalami degradasi yang luar biasa, pembalakan liar, perburuan liar, juga bunga-bunga endemik di alas itu sudah nyaris tidak ada,” kata Jro Putu Ardana. (ask)

Masyarakat ADT juga melihat adanya penurunan pada kondisi Alas Mertajati. Melihat degradasi yang terjadi dan juga mengingat vitalnya Alas Mertajati ini, sebagai sumber kehidupan. Masyarakat ADT melakukan proses permohonan kepada negara untuk menjadikannya sebagai hutan adat, yang dijaga sesuai tradisi oleh masyarakat adatnya. 

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved