Rektor Undiknas : Bali Perlu Sesuatu Yang Sustainable

Wacana Work From Bali (WFB), nampaknya menjadi perhatian semua pihak. Tak terkecuali para akademisi. Satu diantaranya adalah Rektor Undiknas Denpasar,

Instagram.com/ @ourkindlife
Pura Lempuyangan di Bali 

 

DENPASAR, TRIBUN BALI – Wacana Work From Bali (WFB), nampaknya menjadi perhatian semua pihak. Tak terkecuali para akademisi. Satu diantaranya adalah Rektor Undiknas Denpasar, Prof. Dr. Nyoman Sri Subawa, S.T.,S.Sos.,M.M.

“WFB itu ide bagus, dimana orang bekerja dari Bali dan membantu ekonomi Bali bergerak,” katanya di Denpasar beberapa waktu lalu. Apalagi saat ini ekonomi Bali kontraksi cukup dalam, hingga minus 9 persen sekian.

Tentu saja hal ini berdampak pada banyak hal, banyak sektor, dan berbagai elemen masyarakat. Untuk itu, guna menggairahkan pariwisata Bali. Rencana WFB ini memang perlu digaungkan. Setidaknya kalangan domestik, baik pelancong, pekerja swasta, BUMN, hingga PNS bisa bekerja dari Bali.

Menggunakan fasilitas di Bali, dan membantu Bali berdenyut kembali. Mengingat lokomotif ekonomi Bali, adalah bersumber sebagian besar dari pariwisata. Sehingga begitu pariwisata mati suri, semua hal juga ikut mandeg. Apalagi turis asing belum diperbolehkan datang ke Pulau Dewata ini.

Sehingga harapan satu-satunya adalah dari domestik market. Namun guru besar ini mengingatkan, jangan sampai hanya berdampak hanya sementara. Sebab Bali memerlukan sesuatu yang lebih sustainable, dalam terus memutar roda perekonomiannya. Istilahnya jangan hanya hangat sementara saja.

“Ini tentu perlu jangka waktu, tetapi menurut hemat saya. Lebih baik memastikan bagaimana vaksinasi mesti lebih dipercepat dan diperluas,” tegasnya. Sehingga ke depan pariwisata bisa dibuka kembali, tentunya dengan memerhatikan protokol kesehatan yang ketat. Baik dari dalam maupun dari luar.

Sebab tidak ada yang tahu, sampai kapan pandemi Covid-19 ini akan bertahan dan hilang. “Kalau sudah bisa 70 persen sesuai harapan untuk vaksinasi, saya rasa sangat baik itu,” katanya. Kemudian wacana pindah ke sektor lain, juga nampaknya menjadi hangat belakangan ini.

Namun hal itu tidak serta merta seperti membalikkan telapak tangan. Perlu kebiasaan baru, yang dilakukan terus-menerus. Sementara sektor lain, seperti pertanian masih kurang diminati di Bali sebagai sumber ekonomi. Banyak yang masih skeptis bisa hidup dari sektor ini. Dimana pariwisata selama ini, memang memberikan pendapatan lebih cepat dan banyak.

Tentunya juga hal itu harus didukung pemerintah, untuk menggairahkannya. Memberikan banyak dukungan, insentif dan lain sebagainya. Sehingga generasi muda mau beralih menjadi petani ke depannya. Sementara seperti diketahui, serapan hasil pertanian di lapangan juga masih cukup sulit. Sehingga membuat pekerja lebih suka mengais rezeki di bidang pariwisata.

Jikapun nanti pariwisata jadi dibuka untuk asing, ia berharap ada masa karantina bagi yang datang. Sehingga bisa dipastikan benar-benar bebas dari virus Covid-19. “Kalau WFB ini untuk jangka pendek mungkin bisa, tetapi untuk jangka penjang perlu dilihat kembali nanti dampaknya,” imbuhnya.  Namun demikian ia berharap semuanya segera selesai, sehingga masyarakat bisa kembali hidup normal dan layak. Ekonomi kembali bertumbuh dan semuanya perlahan kembali normal. (ask)

Sumber: Tribun Bali

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved