Global IFP Alumni Meeting 2021, Jaga Marwah Keadilan Sosial

Alumni International Fellowship Program (IFP) Indonesia, menyelenggarakan Global IFP Alumni Meeting 2021: Dari Isolasi ke Kolaborasi. Acara ini disele

Anak Agung Seri Kusniarti
Global IFP Alumni Meeting 2021: Dari Isolasi ke Kolaborasi. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A  A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Alumni International Fellowship Program (IFP) Indonesia, menyelenggarakan Global IFP Alumni Meeting 2021: Dari Isolasi ke Kolaborasi. Acara ini diselenggarakan selama lima hari secara hibrid (online dan offline). Pertemuan offline dilakukan di Grand Inna Bali Beach Denpasar, melibatkan 15 alumni program yang tersebar dari 9 angkatan. Berasal dari berbagai pulau di Indonesia.

Kemudian 79 lainnya hadir secara daring, dan datang dari berbagai negara. Diantaranya dari Asia, Afrika, dan belahan dunia lainnya. Peserta adalah para alumni IFP Global. Pertemuan dibuka Agus Nahrowi, sebagai Ketua Presidium Indonesian Social Justice Network (ISJN). Sekadar informasi, IFP adalah program beasiswa bagi mahasiswa yang memiliki potensi namun tidak memiliki akses ke perguruan tinggi. Khususnya perguruan tinggi di luar negeri.

“Tujuan kami berkumpul ini, adalah memelihara spirit keadilan sosial bagi seluruh manusia. Bahwa kita adalah orang yang lahir dari komunitas dan kembali berkontribusi pada komunitas. Khususnya di masa pandemi ini,” jelas Tolhas Damanik, di Denpasar, Rabu 9 Juni 2021. Hal ini sejalan dengan Global IFP Alumni Meeting 2021. Di mana dalam acara tersebut, ada sesi berbagi pengalaman tentang best practices dari masing-masing komunitas yang mereka geluti.

Alumni IFP di Indonesia mencapai 300 lebih, dan alumni di dunia mencapai ribuan. Semuanya memiliki kisah menarik, untuk disimak di masa pandemi akibat penyebaran virus Covid-19 ini. Satu diantaranya, adalah kisah dari Nusa Tenggara Timur, oleh alumni bernama Dominggus Elcid Li. Ia memberikan solusi alternatif selama pandemi ini. Dengan mendirikan sebuah laboratorium untuk pemeriksaan PCR secara gratis.

Proyek sosial tersebut bernama Laboratorium Kesehatan Masyarakat. “Kami membangun sistem dengan bekerjasama, dalam upaya memecahkan masalah,” katanya. Ia melakukan tes PCR massal secara gratis. Hal tersebut diperjuangkan, karena yang membutuhkan tes PCR tidak hanya orang kaya dan berada. Namun masyarakat kebanyakan dari berbagai kalangan juga membutuhkan.

Laboratorium tersebut, kata dia, melibatkan banyak relawan seperti perawat, dokter, pemuda, aktivis sosial, dan ilmuwan. Mereka juga bekerjasama dengan pemerintah, untuk memudahkan banyak hal. Saat ini laboratorium itu, telah memeriksa 14 ribu sampel tes usap (Swab/PCR) secara gratis. Dengan metode pool test menggunakan mesin PCR. Harapannya dengan ini antisipasi penyebaran virus bisa diatasi.

Ada pula alumni yang bergerak di bidang seni, menghibur masyarakat di wilayah lockdown dengan seni. Sehingga masyarakat terhibur dan tidak stres selama pandemi ini. Kadek Swastika, Ketua Panitia ISJF 2021, mengatakan bahwa sejatinya kegiatan ini telah berlangsung sejak Februari 2021. “Ini puncaknya yang dilakukan secara hibrid,” katanya.

Acara selanjutnya, adalah rangkaian seminar selama dua hari dengan selektif pembicara yang dipilih dari hasil seleksi paper. Ada dari dosen, NGO, dan lain sebagainya. Intinya, kata dia, ISJF ini tidak hanya teori saja namun lebih kepada bagaimana praktek keadilan sosial di dalam masyarakat itu sendiri. (ask)

Sumber: Tribun Bali

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved