Inda Trimafo: Saya Berjuang Untuk UMKM dan Pariwisata Bali

nda Trimafo, satu diantara pengusaha yang merasakan efek pandemi akibat penyebaran virus Covid-19. Nampaknya memilih untuk tetap berkarya dan terus be

Anak Agung Seri Kusniarti
Bincang Menkop dengan Wabup Badung dan DPRD Badung dalam Economic Art and Creative Hub. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Inda Trimafo, satu diantara pengusaha yang merasakan efek pandemi akibat penyebaran virus Covid-19. Nampaknya memilih untuk tetap berkarya dan terus bergerak. Walaupun di masa sulit ini, ia juga merasakan dampaknya secara signifikan. Namun semangat juangnya tidak mengurungkan niat cucu Gusti Ngurah Rai ini untuk menggaungkan pembaharuan.

Selain sebagai anggota dewan di DPRD Badung. Kali ini Inda Trimafo juga didapuk sebagai Ketua Komite Badung Economic Art and Creative Hub. Bersama Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki. Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa. Serta Ketua DPRD Kabupaten Badung, Putu Parwata. Inda, sapaan akrabnya, membahas impian UMKM di Badung dan Bali.

"Saya berjuang untuk UMKM dan pariwisata Badung serta Bali," katanya. Acara itu juga membahas tentang pandemi Covid-19 dan dampaknya bagi Pulau Dewata.

Di awal acara, diperkenalkan para anggota Badung Economic Art and Creative Hub. Peserta yang hadir pun, berasal dari kalangan pengusaha seperti Hipmi, Kadin, dan lain sebagainya. Disebutkan bahwa, bisnis pariwisata Bali tidak bisa hanya mengandalkan MICE dan leisure saja. Namun harus kembali ke basisnya, yakni basis alam Bali. Seperti basis dari sektor pertanian dan dibarengi dengan industri kreatif.

Sektor pertanian bahkan masih di bawah 50 persen, dan ini yang harus dikembangkan ke depannya. Sehingga UMKM dan industri kreatif juga bisa tumbuh. Tentunya semua ini tidak akan tumbuh tanpa dukungan dan bantuan dari pemerintah. Untuk itu, Suiasa dengan lantang menyebutkan bahwa pihaknya akan memangkas birokrasi yang tidak perlu. Sehingga urusannya tidak ribet atau bertele-tele.

“Pemerintah adalah fasilitator dan regulator, kami menyiapkan itu dan masyarakat taat akan regulasi yang ada,” tegasnya Selasa 8 Juni 2021 di Beachwalk, Badung. Walaupun izin dan lain sebagainya dipermudah, ia tetap mengharuskan usaha apapun khususnya di Kabupaten Badung harus berizin atau legal. Kemudian setelah itu, bisa beradaptasi dengan digitalisasi untuk meraih pasar dan bertahan di tengah globalisasi.

“Uniknya catatan di Badung, dari semula ada 9.000 usaha kini di masa pandemi menjadi 31 ribu. Namun setelah kami cek, hanya 12an yang mampu on boarding, dan 1.000an telah digital. Nah sisanya masih konvensional,” sebutnya. Sehingga hal tersebut harus digarap bersama-sama, dan menjadi kesadaran semua pihak dalam sebuah kolaborasi menuju kemajuan.

“Kami juga turun ke lapangan melihat mana yang belum ada izin, kami sudah MoU dengan banyak pihak seperti BPOM dan MUI untuk meminta rekomendasi. Sehingga aspek legalisasi usaha ke depannya kian mudah dan cepat,” katanya. Ia pun memohon solusi untuk masalah permodalan yang menjadi satu diantara kendala para pengusaha di Badung kepada Menkop. Sebab ada 5 hal dalam sebuah usaha agar sukses, yakni management, man, money, material, and marketing.

Sementara itu, Inda Trimafo juga melayangkan pertanyaan kepada menkop. “Program kementerian apa yang bisa menyentuh dan mensupport langsung,” katanya. Menkop Teten menjelaskan, bahwa pemerintah pusat telah melakukan berbagai simulasi setelah dunia dilanda pandemi ini. “Waktu Covid-19 ini menyerang, kami sudah membayangkan ihwal krisis 1998. Kemudian melakukan analisis cepat, lalu kami dapatkan tiga katagori yang terdampak pandemi,”katanya.

Pertama, kata dia, adalah usaha yang colaps, kedua masih bisa bertahan, dan ketiga malah bertumbuh. “Untuk yang bertumbuh ini, karena bisa beradaptasi dengan pandemi. Umumnya ini usaha di sektor makanan dan minuman, serta pemeliharaan kesehatan,” jelasnya. Sisanya usaha menghadapi penurunan omzet dan tidak mampu membayar bank. Untuk itu, pemerintah menyarankan kepada OJK dan perbankan agar dilakukan restrukturisasi.

Lalu bantuan sosial diberikan langsung kepada masyarakat terdampak. Termasuk bagi pengusaha yang usahanya mati di kala pandemi. “KUR sampai akhir tahun bunganya murah, ada pula subsidi pajak, subsidi listrik, dan pemberian modal kerja,” ungkapnya. Setelah itu, dilakukan reformasi besar-besaran dengan kemudahan bisnis dan akses pembiayaan.

Ia juga menyerukan, bahwa porsi kredit perbankan bagi UMKM harus di atas 30 persen. Sebab ekonomi kreatif terbukti mampu bertahan. Bahkan di tengah pandemi ini bisa menjadi solusi bagi sumber pemasukan. Mengingat banyaknya pemutusan hubungan kerja sejak pandemi melanda. Untuk itu ekosistem harus dibangun dengan kondusif dan kolaboratif dari pusat hingga daerah dari swasta hingga pemerintah. “Saya rasa hibah juga kurang efektif saat ini, tidak tepat sasaran,” tegasnya. Inda pun menunggu roadshow ini. Untuk membantu UMKM di Bali, khususnya di Badung tumbuh bak jamur di musim penghujan. (ask)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved