Sad Kerti, Salah Satu Jalan Umat Hindu untuk Menuju Moksa

'Banyak jalan menuju Roma, demikian pepatah yang sangat terkenal di tengah-tengah masyarakat'.

Editor: Karsiani Putri
Istimewa
Pura Danau Beratan Bedugul 

TRIBUNBALITRAVEL.COM, DENPASAR - 'Banyak jalan menuju Roma, demikian pepatah yang sangat terkenal di tengah-tengah masyarakat'.

Pepatah ini bermakna bahwa ada banyak jalan menuju ke suatu tempat atau ke suatu tujuan.

Begitu juga dengan tujuan akhir agama Hindu, yakni moksa atau harapan bersatunya jiwa dengan sang pencipta, Tuhan yang Maha Esa. 

Namun, tentu mencapai moksa bukan perkara mudah sebab manusia selama hidup di dunia terikat oleh karmaphala, hasil perbuatan baik dan buruk selama hidup.

Sehingga karmaphala itu yang kerap membuat manusia kembali bereinkarnasi, kembali lahir menjadi manusia atau makhluk hidup lainnya.

Untuk kembali menebus perbuatannya, khususnya perbuatan buruk dan kurang baik. 

Untuk itu, dalam ajaran agama Hindu dikenal banyak istilah dan ajaran-ajaran agama agar umat manusia mampu mencapai moksa.

Satu diantaranya adalah Sad Kerti.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, kepada Tribun Bali, menjelaskan Sad Kerti memang sangat berkaitan dengan moksa. 

Mantan dosen Unhi Denpasar ini, menjelaskan bahwa Sad Kerti juga sering disebut Sad Kertih.

"Sad Kertih berasal dari dua kata, yaitu 'Sad' dan 'Kerti'. Sad dalam bahasa Indonesia berarti enam, sedangkan Kerti berarti berlaku atau berlaksana," demikian sebut ida, Minggu 1 Agustus 2021.

Sad Kerti adalah enam pelaksanaan atau perlakuan demi kesucian, keselamatan kehidupan dalam alam semesta ini untuk kepentingan bersama.

Adapun yang termasuk dalam Sad Kerti ini terdiri dari Jana Kerti, yaitu usaha untuk menyucikan diri sendiri, baik menyucikan fisik, perbuatan, perkataan serta pikiran.

Sehingga vibrasi hidup bisa memberikan pengayoman kepada semua ciptaan Tuhan karena konsep Trikaya Parisuda, betul-betul dipahami dan dilaksanakan.

Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan meditasi, selalu mengoreksi diri sendiri (mulat sarira), menjalani konsep  Tri Kaya Parisudha dengan praktek nyata, sehingga menimbulkan rasa shanti (damai) bagi diri sendiri dan lingkungan.

Kemudian Jagat Kerti, yaitu usaha untuk membuat jagat atau wilayah, atau yang lebih luas di negara ini menjadi shanti atau suci.

"Karena kita berusaha menjaga kesucian tempat atau negara ini dari kekotoran-kekotoran akibat perbuatan-perbuatan yang tidak baik, seperti kriminal, pencurian, pemalsuan, korupsi, pertentangan dan lain-lainnya, agar jagat raya kita ini betul-betul shanti," jelas beliau. 

Hal ini bisa dilakukan dengan adanya acara Dharma Shanti, pelaksanaan kerukunan umat beragama, dan hidup saling pengertian, menaati peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sedangkan secara spritual dilaksanakan dengan pecaruan, seperti Tawur Agung, Ekadasa Rudra, dan lain sebagainya. 

"Apabila hal ini dilakukan dengan sungguh-sungguh dan hati suci tulus ikhlas maka jagat ini betul-betul akan menjadi shanti," tegas mantan jurnalis ini.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved