Harapkan Kemajuan Travel Agent, Ayu Saraswati Tawarkan Asitaone

Berbicara dunia pariwisata di Bali, tidak akan bisa lepas dari travel agent. Sebab posisi travel agent sebagai gerbang untuk mencari tamu, sangat pent

Instagram/ambrosiaalchemist
Lotus Lagoon 

DENPASAR, TRIBUN BALI - Berbicara dunia pariwisata di Bali, tidak akan bisa lepas dari travel agent. Sebab posisi travel agent sebagai gerbang untuk mencari tamu, sangat penting dan vital khususnya di Bali. Untuk itu, travel agent perlu sosok yang mumpuni sebagai pemimpin. 

Di tengah situasi pandemi kian membuat kondisi travel agent terpuruk. Setelah isu perpecahan yang terjadi akibat adanya perbedaan kubu. Namun Putu Astiti Saraswati, ingin mengubah hal tersebut menjadi sebuah persatuan. 

Owner dan CEO Toya Yatra Travel ini, bukan orang baru di dunia biro perjalanan wisata ini. "Pertama kali saya terjun di dunia wirausaha, adalah di travel agent Jakarta pada tahun 2008," sebutnya, Rabu 11 Agustus 2021. 

Kemudian di saat yang bersamaan, pihaknya kami sedang melakukan ekspansi terhadap Toya Devasya. Sehingga wanita yang akrab disapa Ayu Saraswati ini, harus bolak-balik Jakarta-Bali. Pada tahun 2011, karena anak-anaknya telah beranjak lebih besar.

Ia memutuskan untuk menetap di Bali, dan mengurus Toya Devasya serta Toya Yatra. Travel agent yang ia dirikan, bukan tanpa alasan. Besarnya minat wisatawan terhadap destinasi yang ada di Pulau Dewata, membuatnya mendirikan biro perjalanan wisata.

Untuk menjaring wisatawan yang ingin mengunjungi destinasi lain di luar Toya Devasya. Dari sanalah awal mula idenya, hingga berjalan sampai saat ini. "Saya menikmati dunia pariwisata ini, karena mempertemukan dengan banyak sekali orang dari belahan dunia lain. Kemudian memiliki karakter berbeda-beda," ucapnya.

Selain itu, juga membuatnya bisa melihat banyak tempat di Bali maupun luar Bali. Semua ini membuat pengalaman akan lebih kaya. Low cost airline, membuat travelling lebih aksesibel untuk banyak orang. Sampai sebelum pandemi terjadi, kunjungan wisatawan terus meningkat. Karakter wisatawan pun menjadi lebih luas, bukan saja high end tetapi juga nomadic tourism dan milenal. 

"Dinamisme di dunia pariwisata ini, membuat saya merasa tertantang dan harus selalu belajar lagi dan lagi," tegasnya. Untuk itu, ia juga ikut dalam bursa pencalonan ketua Asita periode 2021-2026. Jika terpilih menjadi ketua, hal pertama yang akan ia lakukan adalah mengajak semuanya bersatu. 

"Tidak ada lagi pendukung si A dan si B," imbuhnya. Semua diajak bersatu, karena ini (Asita) adalah organisasi besar dan tua yang seharusnya dapat memberi dampak positif bagi Bali. "Eranya lagi susah, saya akan mengajak kita semua bergandengan tangan menghadapi pandemi. Karena sebagai anak muda, tentu saya ingin mengajak semua optimistis melihat situasi Bali sekarang," tegasnya.

Sehingga harus lebih realistis, bahwa Bali bukan layaknya zaman dahulu ketika wisatawan datang sendiri dan spending money masih besar. "Kemudian dari sana saya mengajak kita semua adaptif. karena eranya telah berubah," ujarnya. Karakter wistawan juga berubah dan saingan tentu juga semakin banyak.

"Sekarang eranya milenial, yang mereka inginnya datang segera dan dapat menikmati berdasarkan viualisasi di media sosial," katanya. Hal itu yang pertama akan dilakukannya. Lebih realistis dan adaptif dalam menghadapi masa depan. Tentunya karena situasi dan kondisi yang berubah, keuntungan juga tidak lagi besar.

Hal itu disebabkan perubahan zaman dan minat pelancong serta banyak hal lainnya. Walau demikian, biarpun untung sedikit yang penting kontinuitas yang panjang dan konsisten. "Setelah itu, tentu saja saya akan menjalankan program. Gebrakan saya akan membuat database lebih baik," katanya.

Bali ini, kata dia, dari dahulu harus dibangun berdasarkan basis data. Sama juga industri travel agent harusnya punya pangkalan data. Layaknya Gojek dan Traveloka, yang mengantongi data dengan baik. "Saya tidak akan membuat e-commerce pariwisata atau travel agent yang B2C atau bersentuhan langsung dengan customer. Karena menurut saya itu bukan ranah kita sebagai asosiasi," tegasnya.

Ia akan menawarkan digitalisasi dalam bentuk aplikasi, yang diperuntukkan bagi anggota. "Saya menyebutnya aplikasi Asitaone," sebutnya. Aplikasi ini berisikan database anggota Asita Bali secara terperinci. "Semua kita masukkan termasuk travel agent kecil-kecil anggota kita," imbuhnya. Member yang kecil-kecil ini, tentunya memerlukan bantuan. Karena masih banyak yang kesusahan membangun infrastruktur digital, dengan modal yang sangat besar.

Berbeda dengan travel agent besar, yang bisa membangun sendiri dengan kapital besar. "Nah di Asitaone ini coba kita masukkan," katanya.  Asitaone IMS (Integrated Marketing Services) ini, adalah semacam wadah untuk anggota yang tidak memiliki sumber dana besar. Untuk misalnya bagaimana memasarkan lewat media sosial, atau bahkan masalah fotografer dan videografer dalam membuat konten pemasaran.

"Itu semua akan kami fasilitasi. Jadi nanti kami berikan wadahnya," ucapnya. Sebenarnya pelaku travel agent sekarang telah menjalankannya, hanya saja terkadang ada yang bagus sekali dan ada yang tidak bagus sama sekali. "Nah kita mengajak yang hasilnya belum bagus itu, terutama anggota kita untuk fasilitasnya," katanya.

Kemudian Asitaone Training Center, yang sedang coba dijalankan. "Kalau kamu jadi member, bisa dapat fasilitas pelatihan dalam hal informasi teknologi hingga  e-commerce," sebutnya. Tujuan utama dari semua gebrakan ini, supaya semua pelaku usaha travel agent khususnya member Asita Bali semakin adaptif dan kompetitif.

Persaingan ke depan semakin ketat, sehingga sekarang saatnya untuk bersinergi dan saling bekerjasama. "Bahasa kerennya sharing ekonomi," ujarnya. Selain itu, pebisnis travel agent ini berharap dapat dilindungi oleh pemerintah dan pemegang regulasi. Khususnya di dalam situasi sekarang ini, setidaknya pemerintah melihat bahwa banyak pelaku jasa travel agent yang telah gulung tikar.

"Setidaknya kami diingat, adalah travel agent yang memasarkan Bali di garda terdepan dan membuat konektivitas wisatawan di Bali terjadi. Kami berharap pemerintah bisa membantu kami untuk bangkit kembali, dengan memfasilitasi pinjaman dengan suku bunga yang sangat rendah (soft loan)," tegasnya. Walaupun telah ada (soft loan), tetapi sifatnya lebih ke bussines to bussines antara travel agent dengan bank.

Harapan lainnya, tentu pariwisata bisa segera dibuka dengan tetap mengandalkan prokes yang ketat. "Agar kita semua bisa bergerak dan beraktivitas kembali," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved