Salak Sibetan Mulai Diminati Pasar di NTB, Permintaan Perminggunya Mulai Dari 1 Hingga 3 Ton

Salak Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem mulai diminati Pasar di Pulau Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Editor: Karsiani Putri
Saiful Rohim
Salak Sibetan sedang ditampung untuk dikirim ke daerah Indonesia bagian timur 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA- Salak Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem mulai diminati Pasar di Pulau Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Permintaan perminggunya cukup tinggi di beberapa pasaran besar di NTB, yakni mencapai 1 sampai 3 ton.

Kemungkinan jumlah tersebut meningkat.

Gede Ngurah Petani asal Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem mengaku, sejumlah petani salak di Sibetan dapat permintaan dari tengkulak di Karangasem.

Jumlah salak yang diminta cukup banyak.

Ratusan kilogram perharinya.

Salak tersebut akan dikirim ke Indonesia bagian Timur.

"Permintaan Salak Bali lumayan tinggi di daerah timur. Seperti Lombok,  Sumbawa, hingga Dompu. Tengkulak Karangasem kadang kewalahan melayani  permintaan dari NTB. Hampir setiap hari permintaannya," ungkap I Gede Ngurah, Minggu 5 September 2021.

Ditambahkan, setiap petani salak kadang hanya mampu memenuhi sekitar 25 sampai 50 kilogram perhari saat musim panen.

Para petani menjual Rp4 ribu perkilogramnya ke tengkulak. 

Sedangkan di Indonesia bagian timur harganya Rp 6.500 sampai Rp7 ribu perkilonya, tergantung kualitas salak.

"Luas lahan saya sekitar 25 are. Semuanya ditanami  salak. Perhari bisa memanen sekitar 25 kilogram saat masuk musim  panen. Rata - rata petani di Sibetan menjual salak ke tengkulak," tambah Gede Ngurah.

Sampai hari ini, permintaan salak di daerah Indonesia timur meningkat.

Untuk permintaan salak dari Pulau Jawa juga ada.

Hanya saja jumlah kecil dibandingkan ke NTB.

Baca juga: Guna Promosi Pariwisata Dalam dan Luar Negeri, Disparda Kota Denpasar Anggarkan Rp98 Juta

Pihaknya berharap harga salak bisa normal dan bersahabat, sehingga petani salak di Karangasem tak merugi.

Biasanya harga salak turun drastis saat memasuki panen raya di Karangasem.

Untuk diketahui, tingginya permintaan salak di NTB karena banyak home industri yang  bahannya  dari buah salak.

Baca juga: Jaga Ketahanan Pangan, Petani Muda Dukung Food Estate

Salak diolah menjadi kripik, selai, manisan, hingga dodol.

Sehingga nilai jual olahan tersebut naik dibanding buah salak.

Olahan tersebut dijual ke swalayan, toko,  dan Bandara. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved