Tinjau TPST Samtaku Jimbaran, Bupati Badung: Prinsip Kita Adalah Memusnahkan Sampah

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta meninjau lokasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sampah Tanggung Jawabku (Samtaku) Jimbaran

Editor: Karsiani Putri
Istimewa
Bupati Badung Nyoman Giri Prasta 

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta meninjau lokasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sampah Tanggung Jawabku (Samtaku) Jimbaran sebagai tempat pengelolaan sampah yang efisien.

Bupati Badung Giri Prasta didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Badung dan stakeholder lainnya berkeliling melihat langsung proses pengelolaan sampah dari awal truk sampah tiba sampai akhir pengolahan sampah.

Diakuinya, Pemkab Badung ingin mencoba menyelesaikan sampah berbasis sumber dimulai menggerakkan sepenuhnya semua Desa dan Kelurahan di Badung untuk melaksanakan TPS 3R (Reduce, Reuse dan Recycle).

Dan TPS disini merupakan TPS Terpadu terdapat pemilihan sampah organik, non organik dan sampah lain.

Baca juga: Salak Sibetan Mulai Diminati Pasar di NTB, Permintaan Perminggunya Mulai Dari 1 Hingga 3 Ton

"Contoh misalkan sampah plastik pun sudah ada pemilihan, sampah plastik berwarna dan ada sampah plastik putih. Dan juga ada sampah botol plastik serta botol kaleng ini semua sudah dipilah lalu diolah disini bahkan residu serta organiknya juga diolah disini," ujar Bupati Badung Giri Prasta, Kamis 9 September 2021.

Orang nomor satu di Kabupaten Badung itu menyampaikan TPST Samtaku Jimbaran ini menjadi salah satu rol model bagi pengelolaan sampah lainnya dan prinsip Pemkab Badung tidak akan pernah berpikir untuk membuang sampah.

"Kalau membuang sampah itu artinya memindahkan masalah kita kepada orang lain. Prinsip kita di Kabupaten Badung adalah memusnahkan sampah, artinya dengan memusnahkan ini adalah menuntaskan dan menyelesaikan sampah," imbuhnya.

Kalau sampah organik kemudian diolah menjadi pupuk organik, kedepannya Pemkab Badung akan membeli pupuk organik tersebut untuk diberikan kepada masyarakat disektor pertanian dan sektor perkebunan.

Sehingga nantinya Badung akan kita canangkan menjadi daerah yang go organik dengan go organik ini maka akan terjadi sebuah perimbangan ekonomi antara Badung Selatan dan Badung Utara.

Karena sektor pariwisata yang mayoritas ada di wilayah Badung Selatan akan didukung sepenuhnya oleh sektor pertanian yang berada di wilayah Badung Utara.

"Contoh nantinya kebutuhan harian hotel kedepannya bisa dipenuhi oleh sektor pertanian yang ada di Badung Utara. Saya meyakini recovery daripada pariwisata akan segera tumbuh dengan catatan penurunan level PPKM," ungkap Bupati Badung Giri Prasta.

Menurutnya, TPST Samtaku Jimbaran menjadi pengolahan sampah sampai tuntas tidak menimbulkan polusi udara (bau sampah) sama sekali dan diharapkan menjadi tempat edukasi bagi sekolah-sekolah dan tokoh masyarakat.

"Disini tadi disampaikan dilengkapi dengan wahana edukasi terkait pengelolaan sampah guna mendorong peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku masyarakat serta anak usia sekolah yang berkunjung," jelasnya.

Diyakini oleh Giri Prasta, jika pengolahan sampah disini berjalan suistanable atau berkelanjutan jangankan TPS lain yang ada di Badung TPS di Bali dan secara Nasional lainnya bisa melakukan studi literasi kesini.

"Kami berprinsip bekerja keras, bekerja ikhlas, bekerja cerdas dan bekerja tuntas. Dan kami selalu menggunakan pelaksanaan kegiatan di lapangan itu pelayanan kepada masyarakat harus cepat, pasti dan murah selalu menggunakan hati," tutur Giri Prasta.

Lebih lanjut ia mengatakan paling tidak di Kabupaten Badung ini ada TPST sebanyak tiga tempat yakni di Badung Selatan, Badung Tengah dan Badung Utara maka harapan kami kedepan di kelurahan dan desa bisa melaksanakan TPS3R sehingga jika ada residu-residu yang tidak bisa diolah disana bisa dilakukan pengolahan di TPST.

TPST Samtaku Jimbaran berdiri diatas lahan seluas 50 are dalam sehari atau selama 8 jam dengan satu shift dapat mengolah sampah seberat 120 ton jika masih dirasa kurang akan mengatur jam shift nya.

"Hasil residu yang kita hasilkan 20 ton per shift selama 8 jam dan kita jadikan RDF (Refuse Derived Fuel). Sampah yang masuk kita pilah mana yang organik dan anorganik, mana yang masih bisa kita pakai. Lalu yang residual kita olah jadikan bahan bakar RDF dimana itu penerimanya ada di Denpasar dan sisanya baru kita kirim ke pabrik yang ada di Pulau Jawa," jelas Ahmad Humaedi selaku perwakilan dari PT Reciki Solusi Indonesia perusahaan yang mengelola TPST Samtaku Jimbaran.

Ia menambahkan dalam sehari itu sampah yang masuk rata-rata 120 ton tersebut harus habis diolah agar tidak menimbulkan masalah baru, dengan Pemkab Badung terdapat kerjasama MoU setiap hari akan mengirimkan sampah seberat 70 ton.

Diluar itu kiriman dari Pemkab Badung tersebut pihaknya juga menerima kiriman sampah dari sekitar wilayah kecamatan Kuta Selatan.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved