Pedagang di Pasar Kedonganan Keluhkan Harga Ikan yang Naik & Sepinya Kunjungan

Aktifitas di Pasar Ikan Kedonganan, Kuta, Kabupaten Badung kala pandemi terlihat lebih sepi dari biasanya.

Editor: Karsiani Putri
Priscilla Nivili
Aktifitas di Pasar Ikan Kedonganan, Kuta, Kabupaten Badung pada Selasa 5 Oktober 2021 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Aktifitas di Pasar Ikan Kedonganan, Kuta, Kabupaten Badung kala pandemi terlihat lebih sepi dari biasanya.

Pasar tradisional berbasis wisata ini dahulu ramai pembeli yang sebagian besar adalah wisatawan.

Di sekitar pasar juga terdapat beberapa restoran dan café yang menyediakan jasa bakar ikan yang saat ini sebagian besar tutup akibat pandemi Covid-19.

Suasana pasar pada Selasa 5 Oktober 2021 pagi mendung dengan rintik-rintik gerimis kecil.

Beberapa nelayan baru sampai di pesisir dan menurunkan hasil tangkapannya.

Kegiatan jual-beli di Pasar Ikan Kedonganan sudah dimulai lebih awal.

Tribun Bali berhasil mewawancarai seorang pedagang di Pasar Ikan Kedonganan bernama Rehan yang berasal dari Jember.

Ia mendapat ikan dari pengepul.

Rehan mengaku bahwa sekarang ikan sedang sulit didapat, sehingga harga jual naik.

“Harga ikan kucing yang biasanya Rp8 – Rp10 ribu sekarang Rp15 ribu, tongkol sekarang Rp30 ribu dulunya Rp20 ribu, terus ikan kenyar sekarang Rp40 ribu dulu bisa Rp30 ribu,” ujar Rehan, Selasa 5 Oktober 2021 menjelaskan kenaikan harga per kilonya.

Selain harga ikan yang sedang naik, ia juga merasa penjualan menurun drastis semenjak pandemi Covid-19.

Dulu, Rehan berjualan di pasar dari jam 6 pagi sampai 6 sore.

“Semenjak Covid, jam 3 atau 4 sore sudah tidak ada orang, jadi saya tutup jam segitu” katanya.

Tribun Bali juga mengunjungi bagian pasar ikan di bibir pantai.

Disana aktifitas jual-beli terlihat lebih ramai dibandingkan di dalam bangunan pasar.

Salah satu pedagang disana, yaitu Ida Faluki dari Banyuwangi mengaku  merasakan perbedaan yang sangat jauh terhadap penjualan pada masa sebelum dan disaat pandemi Covid-19.

Ia juga mengatakan hal yang sama mengenai kenaikan harga ikan.

Ida yang membeli ikan langsung dari nelayan, mengatakan bahwa saat ini harga ikan memang tidak menentu, tergantung tangkapan.

“Iya, harga ikan lagi naik soalnya gelombang tinggi,” ungkapnya, Selasa 5 Oktober 2021.

Memang saat itu terlihat gelombang laut yang cukup tinggi, yang semakin lama semakin mendekati pesisir.

“Kalau ikannya banyak, ya sampai malam. Kalau sedikit siang jam 12, jam 1 sudah habis,” tambahnya.

Berikut harga ikan yang dijual oleh Ida:

Baby kenyar Rp25 ribu/kilo, kucing Rp10 ribu/kilo, comel Rp25 ribu/kilo, banyar dan kembung Rp35 ribu/kilo, layur Rp35 ribu/kilo, dan cakal teros Rp20 ribu/kilo.

Tidak hanya hasil tangkapan laut, di Pasar Ikan Kedonganan juga terdapat beberapa pedagang hasil budidaya air tawar.

Bayu Sugito yang berasal dari Banyuwangi adalah salah satunya.

Bayu menjual beberapa jenis udang, salah satunya adalah udang vaname.

Ia mendapatkan udang-udang tersebut dari beberapa tambak di Banyuwangi dan Surabaya.

Bayu sempat merasakan harga udang menurun di masa pandemi.

“Dulu sempat turun, sekarang pelan-pelan mulai naik lagi,” katanya.

Saat ini harga udang yang dijual Bayu berkisar di Rp70 ribu – Rp195 ribu per kilonya.

Selain itu Bayu juga sangat menyayangkan turunnya penjualan akibat pandemi.

Sebelum pandemi banyak turis yang membeli udang-udangnya yang dimana kebanyakan orang-orang Jepang dan Cina.

Selain itu beberapa café dan restoran di sekitar Kedonganan membeli dari Bayu.

Namun, saat ini pembeli hanya berasal dari orang lokal.

Baca juga: Ketahui Fakta Mengenai Papeda Khas Papua, Memiliki Filosofi Yang Mendalam

“Ya, mudah-mudahan ini semua (pandemi, red) cepat diangkat sama Sang Hyang Widhi, kita bisa pulih kembali dan ekonomi Bali segera membaik,” harapnya.

(Priscilla Nivili)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved