Penerbangan Internasional Segera Dibuka, Owner Travel Namaste Trans Sebut Jangan di PHP Lagi

Semua sektor pariwisata saat ini tengah bersiap untuk menyambut dibukanya kembali penerbangan internasional pada 14 Oktober 2021 mendatang.

Editor: Karsiani Putri
Istimewa/Doc Humas Angkasa Pura Bali
Suasana pemeriksaan ketat di Bandara Ngurah Rai Bali 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Semua sektor pariwisata saat ini tengah bersiap untuk menyambut dibukanya kembali penerbangan internasional pada 14 Oktober 2021 mendatang.

Salah satu pelaku pariwisata yang sudah siap menyambut datangnya wisatawan mancanegara yakni, usaha travel pariwisata, Namaste Trans. 

Ketika ditemui, Made Yogi Ananta Wijaya (36) selaku pemilik usaha Travel Namaste Trans mengatakan usaha travel miliknya sudah dilakukan sistem audit atau pengecekan dari pihak CHSE. 

"Namaste Trans sudah dicek atau diaudit dari pihak CHSE yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf. Jadi kemarin satu hari sudah dicek kelengkapan armada salah satunya harus menyiapkan hand sanitizer, masker, kotak P3K, kebersihan didalam juga harus diperhatikan seperti tempat sampah harus ada tutupnya. Secara keseluruhan kita sudah siap terkait pembukaan bandara besok," katanya pada Rabu 6 Oktober 2021.

Selain masker dan hand sanitizer, nantinya didalam mobil travel tersebut akan diisi juga desinfektan.

Dan ketika penumpang sudah keluar dari kendaraan, mobil akan didesinfektan.

Selain itu juga pihaknya sudah memberikan jarak satu kursi di setiap kursi dan mengurangi penumpang hingga 50 persen. 

"Yang terpenting adalah jaga jarak, jadi kursi disetiap seat tempat duduk diberikan isolasi menyilang diselah satu. Dari pemerintah sendiri menyarankan agar jumlah penumpang 50 persen. Dalam mobil saya tersedia 18 seat penumpang yang boleh masuk 9 atau 10 orang saja," tambahnya. 

Selain menayasar wisatawan mancanegara, Namaste Trans juga dapat melayani angkutan lokal dan domestik.

Selama pandemi ini, Namaste Trans melakukan trip mulai dari acara persembahyangan seperti tirta yatra dan manusia yadnya. 

"Lebih sering ke pura-pura Banyuwangi, Lumajang atau anak-anak yang mendaki ke Gunung. Kemarin PPKM Level 3 kita dipakai ke Yogyakarta selama 6 hari. Kalau yang Jawa Timur tiga hari cukup. Ketika pandemi tentunya sangat sepi karena mereka harus rapid itu yang memberatkan, lalu sudah harus vaksin pertama baru bisa masuk ke atau keluar Bali, juga penggunaan aplikasi PeduliLindungi, kemudian mereka juga takut terpapar pandemi Covid-19," sebutnya. 

Selama pandemi Covid-19, pria yang berasal dari Tabanan tersebut mengaku pendapatannya menurun hingga 90 persen. 

Namun, setelah PPKM di Bali turun level menjadi 3 sudah banyak pelaku pariwisata lokal yang bepergian. 

"Kemarin sudah ada para pelaku lokal berani melakukan kegiatan dari tirta yatra. Kemarin juga sempat handle satu trip ke Yogyakarta. Dari kementrian sendiri memang disarankan melakukan kegiatan di Bali untuk menopang ekonomi Bali naik lagi. Kalau yang diterapkan kesannya memberatkan ya sudah lah ya kalau memang itu membuat Bali cepat pulih oke itu tidak masalah," lanjutnya. 

Sementara menurutnya untuk wisatawan yang harus karantina selama 8 hari agak memberatkan.

Ia pribadi setuju dan mendukung pemerintah, namun ia berpendapat paling tidak waktu karantina hanya lima hari saja. 

"Karena itu akan mengurangi tamu-tamu backpacker datang ke Bali. Bukannya kita tidak mau menerima teman-teman backpacker. Namun saat ini yang kita perlukan benar-benar turis yang spending money atau yang benar-benar membawa uang dan dia mau berbelanja dan mau menghamburkan uangnya di Bali. Bukan yang hanya sekedar selfie di Bali lalu mencari hotel murah atau tidur di kos-kosan," terangnya. 

Ia dan teman-temannya berharap nantinya wisatawan yang datang ke Bali benar-benar tamu yang berkualitas.

Selain itu ia juga berharap semoga pemerintah tidak memberikan harapan palsu lagi terkait pembukaan pariwisata. 

Baca juga: PHRI Badung: 30% Pekerja Pariwisata Akan Diperkerjakan Ketika Penerbangan Internasional Dibuka

"Harapannya sama seperti yang kemarin-kemarin jangan di PHP (pemberi harapan palsu, red) lagi yang saya khawatirkan sudah digaungkan akan dibuka pada tanggal 14 Oktober kita sudah audit dan segala macam, sudah CHSE standar untuk transportasi, Hotel, Restoran dan begitu tahun baru batal takutnya ditutup kembali. Harapan saya jangan seperti itu kalau memang mau diperketat ya agak soft kalau mau dibuka. Takutnya yang sudah booking dari jauh-jauh hari jadi cancel lagi," tutupnya.

(*) 

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved