Demo Aliansi Hindu Nusantara, Ajik Long Harapkan Kedamaian Hindu 

Demo penolakan terhadap sampradaya kembali terjadi. Kali ini oleh Aliansi Hindu Nusantara, sebagai representasi umat Hindu di Indonesia yang terdiri d

Instagram.com/ @ourkindlife
Pura Lempuyangan di Bali 


TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Demo penolakan terhadap sampradaya kembali terjadi. Kali ini oleh Aliansi Hindu Nusantara, sebagai representasi umat Hindu di Indonesia yang terdiri dari beberapa organisasi. 


Diantaranya adalah DPP Amukti Palapa Nusantara (APN), Baladika Angungah Santi, Brahmastra,  Kaula Nindihin Bali, Keluarga Ajik Aura, Laskar Bali Santi, Latengiu, Pedukuhan Budhaireng, Pesraman Kayu Manis, PGN Cakra Taksu Bali, Poros Muda Kemanusiaan, Pura Dalem Balangan, Puri Kesiman, Sandhi Murti, Swastika Bali, Team Hukum Nusa Bali, Warih Satara, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, Yayasan Bima Sakti, Yayasan Dharma Murti Jembrana,  Giri Tohlangkir, serta dekornas Puskor Hindunesia, Dekorwil Hindunesia.


Demo dilakukan, karena organisasi-organisasi ini merasa terpanggil untuk menjaga ajaran leluhur Nusantara. Dari pengaruh ajaran oleh kelompok sampradaya asing seperti Hare Krisna, Sai Baba dan lain sebagainya. 


Sehingga dirasa perlu ada gerakan menolak  sampradaya asing  tersebut, dalam upaya menjaga warisan leluhur dan sebagai bagian Hindu Bali atau Nusantara. Apalagi menurut organisasi ini, orang-orang sampradaya sampai saat ini masih bercokol di bumi Nusantara, khususnya dalam tubuh lembaga Hindu seperti PHDI. 


Maka moment pembersihan dan pemurnian PHDI, menjadi bagian tangga perjuangan yang harus didukung. Sebab selama ini ternyata ditenggarai PHDI Pusat peridoe masa jabatan 2016 – 2021 merupakan tempat dimana dianggap terjadi pemahaman akan Hindu Bali/Nusantara yang keliru, dan cenderung menyesatkan umat. 

 

Statemen yang dianggap menyesatkan ini, terungkap dari pernyataan Ketua Umum PHDI Pusat 2016– 2021, yang menyatakan bahwa Hindu terdiri dari sampradaya, dimana Hindu Bali adalah sampradaya seperti halnya sampradaya Hare Krsna, Sai Baba dan lain sebagainya. 


Aksi damai Aliansi Hindu Nusantara ini, adalah wujud pemberian dukungan kepada PHDI Pusat 2021 – 2026 hasil Mahasaba Luar Biasa, serta meminta pemerintah untuk mencegah Mahasaba XII yang merupakan Mahasaba ilegal karena dilakukan oleh pengurus demisioner dan memohon Presiden Jokowi untuk mempertimbangkan lagi agar tidak menghadiri/membuka Mahasabha yang disebut ilegal ini.


Semua hal tersebut diatas adalah implementasi penolakan terhadap sampradaya asing yang berkamuflase sebagai Hindu. Dimana ajaran Sampradaya asing ini telah meracuni para sebagian besar pengurus PHDI Pusat 2016 – 2021 demisioner. Demikian isi rilis dari aksi Aliansi Hindu Nusantara. 

I Gusti Agung Raka Jayarat, turut berkomentar ihwal demo dan polemik sampradaya ini. Pria yang akrab disapa Ajik Long ini, berharap agar konflik dapat diselesaikan dengan cara damai dan musyawarah. "Mari duduk bersama dan mencari jalan keluar dari semua ini," ucapnya di Sading, Badung, Senin 25 Oktober 2021. 


Tokoh adat dan mantan anggota dewan Badung ini, menambahkan bahwa jangan sampai polemik memecah belah persatuan umat Hindu di Bali maupun di Nusantara. "Mari bersama-sama kembali ke ajaran Dharma dan Weda sebagai kitab suci. Menyelesaikan dengan musyawarah bersama, tanpa ada anarkisme," sebutnya lagi. Termasuk masalah sampradaya, hingga PHDI agar semuanya diselesaikan dengan kepala dingin. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved