Desa Wisata Festival, Cok Ace Sebut Bangkitkan Ekonomi Desa

Kondisi akibat pandemi Covid-19 memporak-porandakan perekonomian Bali dan bahkan ekonomi nasional serta dunia. Ekonomi Bali minus 8,9 persen daripada

Instagram/bali_best_driver
Nusa Penida, tempat liburan akhir pekan di Bali 

 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kondisi akibat pandemi Covid-19 memporak-porandakan perekonomian Bali dan bahkan ekonomi nasional serta dunia. Ekonomi Bali minus 8,9 persen daripada ekonomi nasional. Berbagai upaya pun dilakukan pemerintah pusat dan daerah, dalam upaya membangkitkan ekonomi Bali


Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, menyebutkan bahwa 50 persen PDRB Bali disumbang dari pariwisata. Sehingga dampak pandemi akibat virus Covid-19 ini, sangat memukul sektor pariwisata yang menimbulkan efek domino luas di berbagai sektor. 


Made Mendra, Forum Desa Wisata Provinsi Bali, menjelaskan bahwa salah satu yang harus diperkuat adalah desa wisata. Sehingga kue pariwisata tidak hanya dinikmati pemain besar saja. Namun pula bisa dinikmati hingga ke pelosok desa, dan langsung masuk ke kantong masyarakat di desa. 


Untuk itu, Forkom Desa Wisata Provinsi Bali bekerjasama dengan PT Kirana Bali Wisata, dan didukung berbagai stakeholder termasuk Dinas Pariwisata Bali, akan menyelenggarakan Desa Wisata Festival. Acara berbasis budaya dan event inovatif ini, mengangkat tema 'Mai Melali' menuju Bali bangkit. 


Desa Wisata Festival akan diselenggarakan di Park 23, Tuban, Kuta pada tanggal 27-28 November 2021. Dengan konsep pameran, BTB dan BTC, serta pertunjukan dan bahkan perlombaan. Beberapa perwakilan desa wisata juga akan menampilkan atraksi di sana. Seperti tari makotek. Mempertemukan masyarakat, pelaku desa wisata, dan industri sehingga terjalin komunikasi bahkan kerjasama yang berkelanjutan. 


Termasuk pula mempromosikan desa wisata yang ada di Bali. Dimana ada sekitar 179 desa wisata yang tersebar di berbagai penjuru Pulau Dewata. Festival ini juga menampilkan produk-produk unggulan desa wisata. Goalnya, kata dia, adalah bahwa pariwisata Bali masih eksis dan layak dikunjungi. 


Desak dari PT Kirana Bali Wisata, menjelaskan bahwa tujuan Mai Melali ini adalah membangkitkan industri pariwisata. Mengenalkan lebih dekat potensi desa wisata berbasis budaya. Kearifan lokal dan kuliner yang bisa menjadi pengalaman menarik saat berwisata ke desa wisata. Sehingga turis baik mancanegara dan turis lokal berminat ke desa wisata


Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, mengapresiasi kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa pandemi Covid-19, menimbulkan paradigma baru dalam dunia pariwisata Bali. Selain mata rantai ekonomi yang terganggu, karena terhambatnya pariwisata selama pandemi. Perubahan juga terlihat dari berbagai elemen. 


Tentunya dengan semakin pentingnya kesehatan, maka hal yang berkaitan dengan itu menjadi konsen pelancong ke depannya. Kebersihan dan kesehatan sangat patut diperhatikan diberbagai destinasi wisata termasuk di desa wisata. Selain itu, kesiapan segala pihak juga sangat penting ke depannya. Menyambut perubahan pariwisata saat ini yang lebih ke arah individu dibandingkan grup atau rombongan besar. 


Perlu juga diperhatikan bahwa pelancong kini lebih suka ke alam. Mencari destinasi anti mainstream, berinteraksi dengan orang baru di desa. Maka potensi-potensi ini yang ada di desa wisata harus dikembangkan. Selain itu karena masih masa pandemi, tentunya protokol kesehatan dan berbagai unsur kesehatan lainnya harus mendukung seperti rumah sakit dan lokasi tes PCR atau Swab.


Aplikasi pedulilindungi juga penting digalakkan hingga ke desa wisata. Serta sosialisasi ke masyarakat pentingnya aplikasi ini, untuk sama sama saling melindungi satu dengan yang lainnya. CHSE juga perlu dilakukan di desa wisata, tak hanya di industri pariwisata yang ada di sana saja. Tetapi menyeluruh,"kata panglingsir Puri Ubud ini. 


Desa wisata harus tahu apa yang menjadi keunikannya, sehingga mampu membedakan diri dengan desa yang lainnya. Paham dan menonjolkan keunikan ini juga perlu, karena mampu menjadi daya jual bagi desa wisata ke pelancong. "Tentu saja harus dibarengi promosi. Salah satunya dengan Mai Melali ini, festival desa wisata," imbuh Cok Ace. Dengan branding dan promosi yang baik dan masif, niscaya desa wisata ke depannya akan kian maju. Seiring pula dengan kemajuan warganya di sana. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved