Klungkung Usulkan 4 Tradisi Jadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2021

Pemkab mengusulkan empat tradisi atau warisan budaya di Klungkung untuk dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2021.

Editor: Karsiani Putri
Eka Mita Suputra
Tradisi Mejaga-jaga di Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kabupaten Klungkung beberapa waktu lalu. Tradisi ini diusulkan menjadi warisan budaya tak benda. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA- Pemkab mengusulkan empat tradisi atau warisan budaya di Klungkung untuk dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2021.

Hal ini disampaikan langsung Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta ketika mengikuti sidang WBTB yang digelar Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Baca juga: IHGMA Catatkan Pembatalan Menginap di Bali Sebanyak 1.596, Penurunan Harga PCR Dinilai Terlambat 

Saat ini sebenarnya sudah ada 2 warisan budaya di Klungkung yang ditetapkan sebagai WBTB, yakni proses pembuatan Wayang Klasik Kamasan dan Tari Baris Jangkang, Nusa Penida. 

Sementara baru diusulkan sebagai WBTB tahun 2021 ini, yakni kerajinan Tenun Cepuk dari Desa Tanglad, Nusa Penida, tradisi Dewa Masraman dari Banjar Timrah, Desa Paksebali, Dawan, Barong Nong nong Kling dari Dusun Suwelagiri, Desa Aan, Banjarangkan dan tradisi Caru Mejaga–Jaga dari Desa Adat Besang Kawah Tohjiwa, Kecamatan Klungkung.

"Dari dulu kain cepuk ini sudah ada, namun belakangan ini cenderung di plagiat. Sehingga banyak imitasinya di pasaran. Jadi hal itulah yang mendorong kami untuk menjadikan kain cepuk ini agar bisa dijadikan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)," ungkap Suwirta, Kamis 28 Oktober 2021. 

Sehingga tidak hanya menjadi warisan budaya tak benda, kain cepuk diharapkan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi yang berimbas pada kesejahteraan penenunnya.

"Dengan ditetapkan WBTB, tentu nanti ada berbagai upaya dalam pelestarian kain cepuk dan pemerdayaan penenunnya," ungkapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Klungkung Ida Bagus Jumpung Gede Oka Wedhana menjelaskan, kain cepuk merupakan salah satu warisan budaya di Desa Tanglad, Nusa Penida.

Kain ini termasuk kain sakral dan kerap dikenakan saat upacara adat.

Kesenian ini telah diterima secara turun-menurun oleh masyarakat setempat.

Sementara kesenian Barong Nong nong Kling merupakan bentuk seni pertunjukan yang menggunakan media ungkap tari, musik dan drama.

Drama tari nong nong kling hampir mirip dengan wayang wong Bali.

Hal ini terlihat dari perlengkapan nong nong kling yang menggunakan topeng.

Perbedaan antara nong nong kling dan wayang wong Bali, terletak terutama pada cerita yang dimainkan, meskipun keduanya bertolak dari cerita Ramayana.

Sementara Dewa Masraman adalah tradisi ritual keagamaan yang dibawa oleh para migran dari desa dat mereka, yaitu Desa Tibrah Bugbug, Karangasem yang menempati wilayah Desa Paksebali.

Baca juga: Harga Tes PCR Turun Jadi Rp275 Ribu, Kunjungan Wisdom ke Bali Diprediksi Akan Meningkat 

Baca juga: Terkait Tarif Tes PCR Rp300 Ribu, Tabanan Tunggu Instruksi Resmi Pemerintah

Sementara Caru Mejaga-jaga merupakan sebuah tradisi keagamaan yang digelar sejak kehadiran para migran dari Desa Tohjiwa dari Kerajaan Karangasem. 

(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved