Naik Pesawat Cukup Pakai Antigen, Pemerintah Kembali Ubah Syarat Perjalanan

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menyampaikan perkembangan

Editor: Karsiani Putri
istimewa
foto-ilustrasi-wisatawan-akan-pergi-travelling 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menyampaikan perkembangan terkini terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Senin (1/11).

Salah satunya, syarat penumpang pesawat tidak lagi menggunakan hasil tes PCR, tapi bisa menggunakan hasil tes antigen.

"Ada beberapa poin yang perlu saya sampaikan. Nanti untuk yang lebih detail dan lebih lengkap akan disampaikan oleh Bapak Menteri Kesehatan. Pertama, yaitu walaupun penularan Covid-19 sudah bagus, tetapi kita juga harus terus waspada," ujar Menko PMK Muhadjir dalam keterangan resminya yang disiarkan daring melalui akun YouTube Sekretariat Presiden.

Kedua, vaksinasi akan dipercepat dengan target Desember 2021 untuk dosis kedua di atas 60 persen, kemudian prokes tetap dijaga untuk mencegah penularan.

Kemudian untuk perjalanan akan ada perubahan yaitu untuk wilayah Jawa dan Bali, perjalanan udara tidak lagi mengharuskan menggunakan tes RT-PCR, tetapi cukup menggunakan tes antigen.

"Untuk perjalanan akan ada perubahan yaitu untuk wilayah Jawa dan Bali. Perjalanan udara tidak lagi mengharuskan menggunakan tes RT-PCR, tetapi cukup menggunakan tes antigen sama dengan yang sudah dilakukan untuk wilayah luar Jawa-Bali sesuai dengan usulan dari Mendagri," ungkapnya.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti apa yang disampaikan Menko mengenai protokol kesehatan dan vaksinasi.

Protokol kesehatan ini menjadi penting karena memang mumpung Indonesia sedang turun sekarang pihaknya ingin memastikan bahwa implementasi protokol kesehatan bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi lonjakan lagi.

Terutama nanti menghadapi Natal dan Tahun Baru, dan Bapak Presiden memang sudah memberikan arahan nanti Pak Menko PMK yang akan menjadi koordinator untuk memastikan di mana Nataru dan awal tahun depan tidak terjadi lonjakan kasus.

Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mendukung apa yang ditetapkan oleh pemerintah mengenai ketentuan perjalanan orang dalam negeri dapat menggunakan hasil tes antigen.

"Kami sangat mendukung sekali apabila memang rencana terkait perubahan regulasi yang tadinya menggunakan PCR lalu bisa kembali menggunakan antigen khususnya bagi penerbangan Jawa-Bali," ujar Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali Taufan Yudhistira, saat dihubungi Tribun Bali, Senin.

Namun pihaknya masih menunggu terbitnya regulasi dari instansi terkait untuk pelaksanaan ketentuan perjalanan pesawat udara Jawa-Bali dapat menggunakan hasil negatif tes antigen.

"Dalam pelaksanannya mengenai ketentuan itu kami masih menunggu regulasi dari instansi-instansi terkait. Selama belum terbitnya regulasi baru itu kami akan menerapkan aturan sebelumnya yakni wajib PCR bagi penumpang masuk maupun keluar Bali," ungkap Taufan.

Instansi terkait yang dimaksud di antaranya adalah Surat Edaran dari Satgas Penanganan Covid-19 Nasional, Instruksi Menteri Dalam Negeri, Surat Edaran Kementerian Perhubungan, dan Surat Edaran dari Pemerintah Daerah.

Taufan mengatakan, sejak 24 Oktober 2021, pengguna moda transportasi udara Jawa-Bali wajib menunjukkan hasil negatif test RT-PCR masih diberlakukan.

Satu minggu periode penerapan ketentuan tersebut (24-31 Oktober) trafik penumpang di Bandara Ngurah Rai menurun.

"Periode 24 Oktober sampai 31 Oktober itu kami melayani penumpang 125.449. Kalau kami bandingkan dengan 16-23 Oktober pekan sebelumnya kami melayani 130.738 penumpang. Jika dipersentasekan terdapat penurunan sekitar 9 persen," ujar Taufan.

Penurunan tersebut dimungkinkan karena diperketatnya ketentuan perjalanan orang dalam negeri dari sebelumnya dapat menunjukkan hasil negatif tes antigen lalu diubah wajib menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR, dimana tarif RT-PCR lebih mahal daripada tarif antigen.

Namun mulai tanggal 28 Oktober 2021 lalu, Kementerian Kesehatan menetapkan tarif tertinggi untuk test RT-PCR menjadi Rp 275 ribu (Jawa-Bali) dan Rp 300 ribu (luar Jawa-Bali).

Sehingga dimungkinkan calon penumpang sedikit tidak terlalu keberatan dengan harus melakukan tes RT-PCR sebagai syarat perjalanannya.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved