Dukung Wisata Kesehatan, Hipmi Bali Sebut Jadi Nilai Tambah Bagi Pulau Dewata

Pariwisata Bali yang sudah terkenal di kancah internasional, memang perlu pembaharuan. Sehingga menjadi nilai tambah bagi pariwisata, dan memberi efek

Istimewa
Presiden Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking Rumah Sakit (RS) Internasional Bali, yang terletak di Kawasan Wisata Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, pada Senin, 27 Desember 2021. 

 

DENPASAR, TRIBUN BALI – Pariwisata Bali yang sudah terkenal di kancah internasional, memang perlu pembaharuan. Sehingga menjadi nilai tambah bagi pariwisata, dan memberi efek domino pada sektor lainnya. Bali sejak dahulu kala dikenal sebagai destinasi wisata berbasis budaya, dan hal tersebut masih eksis sampai saat ini.

Namun tak dapat dipungkiri, memang industri pariwisata sangat rentan. Baik rentan dengan isu keamanan, kesehatan, atau bencana alam. Contoh nyata saat bom Bali I dan II, kemudian erupsi Gunung Agung cukup berdampak. Namun pengaruh paling parah, adalah sejak adanya pandemi akibat virus Covid-19.

Hal ini membuat Bali mati suri, bahkan selama dua tahun sejak 2019 lalu. Tidak ada turis asing yang menjamah Pulau Seribu Pura ini lagi, pasca pandemi menyerang seluruh dunia. Membuat hotel sepi pengunjung, okupansi terjun bebas, karyawan dirumahkan, hingga owner menjual semua asetnya demi bertahan di tengah kondisi krisis ini.

Pariwisata sangat berdampak pada Bali, karena lebih dari 50 persen PDRB Bali disumbang dari pemasukan pariwisata. Puluhan ribu karyawan yang masih dirumahkan, membuat perekonomian Bali stuck. Tidak ada yang berbelanja, sehingga memberi efek domino pada seluruh sektor yang lain. Pariwisata memang masih menjadi hal yang seksi bagi Bali.

Selain memang Bali membutuhkan pemasukan dari sektor lain, pariwisata juga harus tetap dijaga. Mengingat banyak orang bergantung pada sektor hospitality ini. Banyak wacana untuk menambah nilai pada pariwisata Bali, salah satunya Bali diharapkan ke depan menjadi tujuan wisata kesehatan layaknya Singapura. Tentu saja impian ini akan nyata, jika didukung semua pihak.

Ketua Hipmi Bali, Agus Permana Widura, sangat setuju dengan adanya penambahan pada pariwisata di Bali. “Memang kita membutuhkan penunjang lain, seperti wisata kesehatan ini,” katanya, Kamis 30 Desember 2021. Apalagi semenjak pandemi, membuka mata semua orang tentang pentingnya kesehatan. Bahkan turis mancanegara pun menjadikan kesehatan sebagai prioritas mereka.

“Turis itu melihat ketika mereka ingin liburan ke suatu destinasi, apakah dari struktur kesehatan sudah memadai atau belum,” ujarnya. Apabila belum, maka turis ini akan menurunkan minatnya pada destinasi tersebut. Sehingga point selling dari wilayah itu menjadi turun. “Memang diperlukan adanya international hospital, semisal seperti Singapura banyak sekali orang dari mancanegara yang liburan ke sana selain shopping sekaligus berobat,” tegas mantan Ketua DPD REI Bali ini.

Baginya Bali memiliki potensi melebihi Singapura, karena selain alamnya yang indah dan budaya yang adiluhung. Dari sisi kesehatan juga cukup memadai. “Karena dilihat sebetulnya dari sisi biaya, jika saya ambil contoh perawatan gigi atau estetika jauh lebih murah di Bali,” sebutnya. Bahkan ke depan, wisata kesehatan ini bisa dibuat paket tersendiri.

Sehingga turis selain liburan ke Bali, tur dan keliling melihat keindahan alam  serta budaya. Juga bisa sekaligus merawat kesehatannya di Pulau Dewata. “Memang sudah waktunya kita menambah nilai tambah dari Bali, supaya bisa bersaing di mancanegara,” tegas pria asli Gianyar ini.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking Rumah Sakit (RS) Internasional Bali, yang terletak di Kawasan Wisata Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, pada Senin, 27 Desember 2021. Dengan adanya rumah sakit tersebut, Presiden Jokowi berharap warga negara Indonesia (WNI) tak lagi berobat ke luar negeri.

"Pada hari ini kita akan memulai pembangunan Rumah Sakit Bali International Hospital yang ini nantinya akan bekerjasama dengan Mayo Clinic dari Amerika. Kita harapkan nanti Sanur ini, menjadi KEK kesehatan dan kita harapkan tidak ada lagi, rakyat kita, masyarakat kita yang pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Tribun Bali.

 

Menurut Kepala Negara Indonesia itu, setiap tahunnya ada kurang lebih dua juta masyarakat Indonesia yang pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Sejumlah negara tujuannya antara lain Singapura, Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, dan tempat-tempat lainnya."Kita kehilangan Rp 97 triliun karena itu," sebutnya.

 

Oleh karena itu, Presiden Jokowi mengapresiasi rencana pembangunan Rumah Sakit Internasional Bali yang digagas oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), beserta jajarannya tersebut. Presiden juga berharap Bali akan menjadi destinasi wisata kesehatan yang nantinya akan meningkatkan wisatawan ke Pulau Bali.

 

"Saya sangat mengapresiasi, menghargai dan kita harapkan nanti di pertengahan 2023 rumah sakit ini sudah selesai dan bisa operasional," ungkapnya. Selain itu, Presiden juga ingin agar obat-obatan, bahan baku obat, hingga alat-alat kesehatan tidak lagi impor dari luar negeri. 

 

"Kita harus berhenti untuk mengimpor barang-barang itu lagi, kita produksi sendiri di negara kita," tandasnya. Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir, dalam laporannya mengatakan bahwa rumah sakit internasional ini mempunyai dua fungsi. Selain membantu Bali untuk mempunyai pariwisata baru dan pariwisata kesehatan, rumah sakit ini juga diharapkan bisa mendukung pelayanan kesehatan bagi para investor atau profesionalnya saat berada di Indonesia.

Sumber: Tribun Bali

Halaman selanjutnya

 

...

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved