Pariwisata Belum Pulih, Ini Pendapat dan Solusi Rektor Undiknas

Jika melihat pariwisata Bali, nampaknya memang belum ada perubahan menuju arah lebih baik. Setelah dihantam gelombang pandemi, akibat meluasnya virus

Anak Agung Seri Kusniarti
Rektor Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Prof. Nyoman Sri Subawa, 

 

DENPASAR, TRIBUN BALI – Jika melihat pariwisata Bali, nampaknya memang belum ada perubahan menuju arah lebih baik. Setelah dihantam gelombang pandemi, akibat meluasnya virus Covid-19. Perekonomian Bali pun, dibuat porak-poranda dan sampai saat ini pariwisata masih ‘mati suri’. Untuk itu, dibutuhkan upaya dan langkah cepat, agar perekonomian Bali tidak semakin terpuruk.

 

Sebelumnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2022 dikisaran 5,4 persen sampai 6,2 persen. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan tahun lalu, dan tahun sebelumnya tatkala pandemi masih sangat aktif menyerang masyarakat. Angka ini bahkan sesuai dengan pertumbuhan ekonomi Bali sebelum pandemi.

 

Sehingga banyak kalangan, berpikir bahwa angka ini agak mustahil dicapai oleh Pulau Dewata. Melihat masih banyak hotel yang terpuruk dan belum beroperasi. Apalagi lebih dari 50 persen PDRB Bali, disumbang dari pariwisata yang sampai saat ini masih stuck. Rektor Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Prof. Nyoman Sri Subawa, mengatakan bahwa proyeksi tersebut tidaklah salah.

 

Hanya saja mungkin kurang realistis, khususnya di tengah situasi perekonomian Bali saat ini secara nyata di lapangan. Pendapatnya bukan tanpa alasan, karena ada beberapa indikator yang dapat dijadikan acuan. “Salah satunya besaran investasi yang digulirkan perbankan ke sektor bisnis,” cetusnya di Denpasar, Kamis 30 Desember 2021. 

 

Baginya, apabila dana yang digulirkan cukup besar tentu akan menggairahkan ekonomi Bali. “Tetapi apabila dana yang digulirkan kepada masyarakat, dalam bentuk penggunaan dana masyarakat nilainya kecil, tentu ini harus menjadi pertimbangan juga," tegasnya. Sehingga proyeksi pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi, atau minimal sama dengan sebelum pandemi harus dievaluasi lagi.

 

Apalagi perekonomian Bali sempat minus, dan masih di bawah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi wilayah lain di Indonesia. Meski kurang sependapat dengan proyeksi Bank Indonesia, namun guru besar ini tetap optimistis ekonomi Bali akan bangkit atau rebound. Namun pantulan sektor ekuin (ekonomi, keuangan, dan industri) Pulau Dewata diperkirakan tidak akan terlalu signifikan. 

 

“Semuanya perlu waktu perlu proses, apalagi setelah babak belur karena pandemi pasti perlu pemulihan,” jelasnya. Banyak pertimbangan yang harus dilihat sebelum mengatakan ekonomi Bali baik-biak saja. Seperti daya beli masyarakat, kemudian upaya aktivitas ekonominya, perilaku ekonomi, seberapa jauh ekspor impor, ini semua menjadi tolok ukur. “Kalau itu masih flat atau standar saja sih, kita belum melesat jauh namanya," tegas Nyoman Sri Subawa. 

 

Berbicara upaya pemulihan perekonomian Bali, ia menyambut baik peta jalan Ekonomi Kerthi Bali yang diluncurkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Roadmap tersebut merangkum enam strategi transformasi ekonomi Bali, meliputi Bali Pintar dan Sehat, Bali Produktif, Bali Hijau, Bali Terintegrasi, Bali Smart Island, serta Bali Kondusif. Baginya enam sektor ini memang menjadi tumpuan Pulau Dewata. Salah satunya adalah kreatif dan digital. “Ini yang seharusnya ditekankan. Kalau sektor pertanian, dan UMKM itu kan sudah lazim," sebutnya. 

 

Dalam perjalanannya, kata dia, roadmap Ekonomi Kerthi Bali, khususnya sektor kreatif, dan digital, harus diimbangi dengan edukasi serta literasi yang masif. Kemudian edukasi dan literasi ini memerlukan waktu, untuk kemudian bisa dijabarkan secara utuh. Tidak seperti memakan cabai, sekarang makan sekarang pedas. “Ini jangka panjang dan butuh proses,” imbuhnya. Walaupun memerlukan waktu, akan tetapi roadmap ini ibarat oase bagi perekonomian Bali yang selama ini rapuh. 

 

"Kalau pun roadmap Ekonomi Kerthi Bali ini, bisa secara simultan sangat bagus juga. Seperti pertanian, perikanan, UMKM, IKM, dan pariwisata bisa bergerak, saya kira itu lebih tepat, untuk mengantisipasi kondisi yang terjadi saat ini," pungkasnya.

Sumber: Tribun Bali

Halaman selanjutnya

 

...

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved