Pariwisata Mulai Bergeliat, Denpasar Siap Sambut Market Domestik dan Asing

Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Denpasar, sangat mengapresiasi langkah yang diambil pemerintah. Dengan adanya relaksasi aturan atau regula

Anak Agung Seri Kusniarti
BPPD Kota Denpasar bersama pemerintah dan stakeholder pariwisata mengadakan table top, menyambut kian melandainya pandemi dan sebagai upaya kebangkitan pariwisata Kota Denpasar. 

DENPASAR, TRIBUN BALI – Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Denpasar, sangat mengapresiasi langkah yang diambil pemerintah. Dengan adanya relaksasi aturan atau regulasi, khususnya terkait dengan pandemi akibat virus Covid-19 ini. Beberapa resolusi besar yang diapresiasi, adalah dibukanya border Bali kembali dan mulai adanya denyut nadi pariwisata sejak memasuki pertengahan tahun 2022 ini.

Begitu juga dengan aturan PCR atau Antigen yang juga direlaksasi, membuat Bali khususnya Denpasar kian bisa bernafas. Setelah dua tahun lebih mati suri, dan berusaha bertahan di tengah gelombang ekonomi akibat pandemi. Untuk itu, diambillah langkah briliant dengan mengadakan table top virtual 2022, bertema ‘menyongsong bangkitnya pariwisata Denpasar’ pada 28 Maret 2022.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra, menjelaskan bahwa table top ini melibatkan setidaknya  15 buyers dan sellers. “Jadi ada hotel, restoran, travel agent, activity laut, dan bahkan festival juga,” sebutnya di Griya Santrian, Denpasar. Banyak hal yang dibahas dalam table top ini, termasuk salah satunya agenda internasional G20 di Bali.

Gusde, sapaan akrabnya, ingin mengajak seluruh stakeholder pariwisata khususnya yang ada di Denpasar untuk kembali bangkit. Kembali bersemangat dan bergairah, menyuarakan indahnya Denpasar baik kepada khlayak umum lokal maupun internasional. “Sehingga mereka akan pula menikmati kegiatan-kegiatan yang ada. Apalagi dengan melunaknya semua aturan untuk domestik dan internasional ini, adalah momentum yang sangat tepat untuk membangkitkan pariwisata kita,” tegasnya.

Salah satu bidikannya, untuk wilayah Denpasar adalah wisatawan domestik. Baginya, yang penting kenyamanan masyarakat traveling, sehingga bisa menyesuaikan income untuk plesiran, namun savingnya atau tabungan mereka tetap aman. Ia pula melihat momentum Lebaran, dan peluang-peluang lainnya yang bisa digarap untuk mendatangkan wisatawan. Apalagi dengan kian melunaknya aturan, maka kedatangan wisatawan pun akan mampu kian meningkat.

Gusde menjelaskan, alasannya membidik wisdom untuk datang ke Denpasar. “Wisdom adalah market potensial, ada momentum Lebaran dan libur anak sekolah. Ini kan tentunya momentum yang datang dari market share domestik,” sebutnya. Sehingga ia tidak ingin kehilangan momentum penting tersebut, apalagi saingan Denpasar cukup banyak di Bali seperti destinasi Ubud, Kuta, hingga Seminyak.

Ia mengakui, bahwa selama ini wisdom kurang meminati Sanur dan Denpasar. Ia memantau, market domestik mulai beralih mengunjungi Canggu, Seminyak, Ubud, dan lain sebagainya. “Nah di sinilah kami akan sharing informasi, dan update sehingga semuanya tahu. Apalagi destinasi seperti pantai Sanur sudah ditata dengan baik,” ucapnya. Denpasar juga memiliki banyak destinasi lain, yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi.

“Kami ingin rebranding Denpasar dan Sanur ke pasar domestik ke depannya,” ujarnya. Untuk asing, kata dia, original market dari Sanur selama ini ada ada tiga. Pertama adalah pasar Eropa dengan persentase sekitar 45 persen, pasar Australia 44 persen, domestik dan Asia 10 persen. Sehingga tentunya dengan dibukanya border internasional Eropa dan Australia maka turis asing pun mulai masuk ke Pulau Dewata. “Kami juga sudah mulai lihat ada flight asing yang landing di Bali,” ucapnya.

Ia tak memungkiri, selama ini Denpasar khususnya Sanur sangat kehilangan original market ini. Apalagi sejak pandemi melanda dunia, border ditutup, dan pariwisata mati suri. Membuat industri pariwisata seperti akomodasi hotel dan lainnya sangat terpengaruh. Sehingga ke depan, diperlukan diversifikasi market lain seperti lokal ini untuk tetap menjaga roh pariwisata ada walaupun mati suri karena force majeur. Ia berharap selain MICE dan asing, domestik ke depannya bisa kian meningkat ke Denpasar dan Sanur.

Apalagi saat ini, okupansi hotel masih rendah walaupun sudah mulai terisi, yakni antara 15-20 persen. “Ya target kami tidak muluk-muluk, kalau bisa 20-30 persen bahkan 50 persen hotel terisi sudah sangat baik,” ucapnya. Ni Made Sugiani, Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Dinas Pariwisata Kota Denpasar, turut berbahagia dengan situasi yang kian membaik saat ini.

“Table top ini merupakan salah satu upaya kami, dalam bidang pengembangan pariwisata dalam upaya untuk mempromosikan pariwisata kami yang kiranya sudah dua tahun vakum akibat pandemi ini,” katanya. Untuk itu, buyers dan sellers bahkan tidak hanya dari Bali dipertemukan di Sanur, Denpasar. Guna mempromosikan usaha pariwisata mereka. “Dengan sudah melandainya pandemi, melunaknya regulasi tidak karantina dan VOA. Semoga saja di tahun 2022 ini menjadi peluang dan harapan kebangkitan Bali khususnya Denpasar,” ujarnya.

Untuk itu diperlukan langkah maju seperti promosi, agar mengingatkan wisatawan bahwa Bali sudah siap menerima mereka untuk plesiran. Khususnya Kota Denpasar, dengan berbagai destinasinya yang unik dan menarik. Ke depan, kata dia, harapannya pandemi ini kian melandai dan mampu memberikan peluang Bali bangkit seperti sediakala. “Kami lakukan promosi baik lewat digital, promosi langsung dan tidak langsung untuk mendatangkan wisman dan wisdom,” tegasnya. Walaupun beberapa promosi yang masih dilakukan secara virtual, namun ia yakin Denpasar akan bangkit setelah badai pandemi. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved