Kini Nelayan di Buleleng Diperbolehkan Beli BBM Pakai Jeriken, Harus Ikuti 2 Syarat Ini

PT Pertamina melarang pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite menggunakan jeriken.

Editor: Karsiani Putri
Ratu Ayu Astri Desiani
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) saat menggelar pertemuan dengan sejumlah pemilik SPBU, agar para nelayan dapat diizinkan membeli Pertalite menggunakan jeriken 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - PT Pertamina melarang pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite menggunakan jeriken.

Larangan ini pun sempat membuat para nelayan di Buleleng kebingungan.

Pasalnya, mesin perahu yang mereka miliki sebagian besar menggunakan bahan bakar Pertalite. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng, I Gede Putra Aryana ditemui Rabu (13/4) mengatakan, pihaknya telah menindaklanjuti keluhan para nelayan tersebut.

Pihaknya telah menggelar pertemuan dengan para pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) agar kebutuhan para kelompok nelayan ini dapat dibijaksanai. 

Baca juga: Dispar Badung Sebut Pengenaan Restribusi di Pantai Melasti Belum Ada Kerja Sama Dengan Pemerintah

"Seminggu yang lalu sempat ada keluhan dari beberapa kelompok nelayan. Mereka tidak bisa membeli Pertalite menggunakan jeriken. Kami kemudian mengeluarkan surat imbauan, memohon bantuan kepada pihak SPBU agar kelompok nelayan yang membutuhkan Pertalite dapat dibijaksanai," ucapnya. 

Aryana menyebut, nelayan yang ada di Buleleng sebagian besar menggunakan mesin dengan bahan bakar Pertalite.

Berbeda dengan daerah lain yang cenderung menggunakan bahan bakar solar, lantaran mesin kapalnya lebih besar.

Dari hasil pertemuan dengan pihak pengawas dan para pemilik SPBU, pihaknya ungkap Aryana akhirnya mengizinkan para nelayan untuk membeli Pertalite menggunakan jeriken.

Namun jumlah BBM yang dibeli dibatasi, yakni maksimal hanya mencapai dua jeriken, atau 60 liter.

Selain itu, nelayan yang membeli BBM juga harus mengantongi Kartu Nelayan untuk mencegah terjadinya kecurangan. 

Baca juga: Dirut Perumda BPS Denpasar Berikan Tanggapan Perihal Permasalahan Parkir di Gelogor Carik

Meski terdapat pembatasan pada jumlah BBM yang dibeli, Arnaya menyebut jumlah tersebut cukup untuk operasional para nelayan dalam sehari.

"Sehari itu nelayan memanf rata-rata hanya menghabiskan 60 liter BBM untuk sekali melaut. Tapi biasanya jumlah BBM yang dibeli selalu lebih, untuk kebutuhan seminggu. Dengan dibatasi jumlah pembeliannya, para nelayan jadinya setiap hari harus ke SPBU," tutupnya. 

(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved